Advertisement

Artikel

Aku: Berbaktilah kepada orangtuamu, maka akan mulia jalanmu.

Redaksi Pelajar NU Banjarnegara
16 Juli, 2019, 23.54 WAT
Advertisement
Aku; Berbaktilah kepada orangtuamu, maka akan mulia jalanmu.
Oleh : Dewi Fatmawati Faoziah

Aku, seorang perempuan keras kepala yang dibesarkan di keluarga sederhana, tidak begitu miskin tetapi juga tak layak disebut kaya. Tetapi keinginanku untuk terus meraih pendidikan yang tinggi sangat kuat. Nekat ? ya, bisa dibilang seperti itu. Pagi yang cerah, namun kasurku enggan aku tinggalkan, rasa malas masih menyelimuti diri ini, karena aku sudah tidak ada jadwal untuk pelajaran lagi.

Waktu itu aku masih duduk di bangku genting sma, di  salah satu sekolah favorit, hanya orang orang tertentu yang bisa masuk sekolah tersebut.
 Tiba di sekolah aku duduk di bangku Panjang depan kelas adalah rutinanku setiap hari, aku senang melihat pemandangan dari bangku itu. Aku diam termenung sejenak sembari menunggu bel masuk berbunyi, yaa walau sudah tidak ada pelajaran tapi semua siswa kelas 12 wajib masuk kelas masing – masing guna mengikuti sosialisasi dari kampus – kampus yang ada. Itu aktivitas setiap hari setelah ujian, sampai akhirnya pendaftaran SNMPTN di buka, ada seleksi di sekolah, karena hanya 50% dari masing – masing jurusan yang boleh mengikuti seleksi itu.

Alhamdulillah, aku lolos dan menjadi salah satu peserta SNMPTN. Aku senang tidak kepalang, tapi itu belum berakhir masih ada tahapan lain yang tentunya lebih berat lagi. Aku memilih tiga Universitas yang aku inginkan, yaitu UNNES,UNY, dan UNSOED dengan fakultas yang aku minati.

 Sebenarnya itu bukan passion ku, karena aku ingin menjadi seorang POLWAN wanita yang bisa dibilang gagah ehehe. Tetapi, terhalang oleh orang tua ku yang tidsk begitu mendukung. Kecewa itu pasti, sampai akhirnya aku mendaftar tanpa sepengetahuan orang tua ku. Pendftaran di buka, aku ikut mendaftar dan mengikuti seleksi tingkat kabupaten di Polres setempat.

Semuanya sudah kupersiapkan terutama fisik dan mental. Satu persatu seleksipun aku lalui memang ada beberapa tes aku tidak lolos karena suatu hal, namun aku masih optimis karena kekuatan doa dan usaha serta kehendak Tuhan tidak dapat di tebak oleh siapapun.

Di tengah proses seleksi SPN kabupaten, pengumuman SNMPTN tiba, semua teman sibuk mengecek apakah Namanya menjadi salah satu dari sekian banyak nama yang lolos seleksi tersebut. Aku pun sama, dan ternyata tidak sesuai harapanku, aku diterima tetapi bukan jurusan yang aku inginkan tetapi di jurusan pilihan orang tuaku.

Aku pulang dengan wajah yang tertekuk lesu, dan di sambut dengan pertanyaan ayahku “gimana ? lolos ?” aku tidak menjawab pertanyaan itu hanya mengerutkan dahiku dan langsung pergi ke kamar. Notifikasi hp pun sama penuh dengan pertanyaan yang serupa, entahlaah hari itu membuat mood ku hancur seketika.

Aku bingung harus ngomong apa ke ayahku, satu sisi itu bukan passionku disisi lain itu kesempatan langka tidak semua orang bisa lolos seleksi itu, tapi aku lebih menuruti kata hatiku. Karena aku masih berharap besar pada tes polisi di kabupaten.

Akhirnya aku berbohong dan mengatakan aku tidak lolos salah satupun dari seleksi tersebut. “ maaf yah, mungkin rejeki ku bukan di SNMPTN, tidak ada yang lolos satupun, mungkin aku memang di takdirkan di SPN yah ehehe” kataku sambil meringis seperti orang tidak tau malu. “haisssh, nggak boleh, masa perempuan jadi polisi, ayah ingin kamu jadi politikus, kalo nggak yaa guru atau mungkin perawat, ayah nggak bisa ngijinin kalo kamu daftar sekolah polisi” jawab ayah ketus dan masih dengan pemikiran kolotnya itu.

Aku menghela nafas Panjang, “tapi yah, yang mau ngelakuin itu aku, kalo nggak sesuai sama hati pasti ujungnya nggak baik, ayolah yah sekarang kan zamannya emansipasi wanita, wanita sekarang itu bebas melakukan apa yang mereka inginkan, bebas meraih cita-cita mereka” perdebatan aku dan ayahku masih berlanjut hingga akhirnya ayah membuat keputusan yang sangat aku tidak sukai yaitu menyuruhku ikut di seleksi selanjutnya, yaitu SBMPTN.

Aku menolak, batinku berontak serasa diriku ingin menghilang saja dari muka bumi dan muncul kembali ketika aku sudah sukses meraih cita-citaku. Tapi apa boleh buat, ayahku selalu saja memaksa ku menuruti apa yang beliau mau. Sampai akhirnya aku setuju mendaftar tes tersebut di Yogyakarta dengan bonus bebas liburn di Jogja selama seminggu.

 Hari yang ku tunggu akhirnya tiba, hari dimana penentuan nasibku untuk terus lanjut seleksi di SPN  atau mengubur impianku dalam-dalam. Tenyata lagi-lagi tidak sesuai harapan, aku tidak lolos karena tinggi badanku kurang dua cm dan nilai fisiku kurang 5 point. Hancur bukan kepalang, stress, pusing, malu sedih campur aduk jadi satu, aku sadar mungkin ini aku merasa bodoh, hal yang sudah pasti didepan mata malah aku sia siain demi sesuatu yang belum pasti.

Aku sadar mungkin ini bukan jalan ku karena orang tua tidak merestui. Akhirnya aku belajar sungguh-sungguh mempersiapkan untuk sbmptnku nanti. Tanpa berfikir panjang keesokan harinya aku mendaftar menjadi peserta tersebut, aku mendaftar di universitas yang sama dengan jurusan yang sama seperti SNMPTN. Setiap malam aku belajar mengulas materi yang akan diujikan. Dua hari sebelum tes dilaksanakan aku pergi ke Jogja sendirian, sebenarnya aku tidak yakin akan lolos tes itu, karena pesertanya banyak dan tidak semua lolos.

Tapi aku mencoba menghilangkan amygdala yang terus terngiang ditelingaku. Sampai di Jogja aku menginap di rumah saudaraku. Keesokan harinya aku survei lokasi tempat tes sbmptn ku besok, agar tau dimana tempat ku duduk dan ruang kelas mana yang akan aku tempati. Sampai keesokan harinya tes dimulai, semua peserta Sudah bersiap. Waktunya masuk ruangan dan mengerjakan soal yang biasa dibilang seperti ranjau, jebakan semua.

Waktu itu tes di lakukan dua sesi. Sesi pertama tpa. Waktu selesai waktunya pulang dan mengistirahatkan tubuhku yang lelah ini. Tidak terasa sudah satu pekan aku berada di Kota Gudeg ini, sebenarnya masih ada waktu seminggu lagi untuk ku berada di sini dan menikmati hari-hari liburku bersama teman baruku.

Tapi aku memutuskan untuk pulang ke rumah, karena aku sudah ingin pulang, entah kenapa kali ini aku merasa sedikit berbeda dengan diriku, yang biasanya tak kenal waktu pulang malah justru tidak ada keinginan untuk hanya seedar pergi jalan menikmati senja di Jogja, yang ada difikiran ku hanyalah Banjarnegara, ya kota kelahiran sekaligus kota aku dibesarkan, kota kecil, tapi bagiku separuh hidupku ada di sana, terlalu banyak pengalaman yang ku dapatkan di Bajarnegara.

Travelku sudah sampai di depan rumah. Aku berpamitan dengan saudaraku dan mengucapkan terima kasih telah menerimaku menjadi keluarga satu atap dengan mereka. Sedih memang, tapi keinginanku untuk pulang lebih besar. Tiga jam perjalanan menuju rumah, ya memang cukup lama, tapi itu tidak menjadi masalah buatku. Sampai di Alun-alun Banjarnegara, aku lega karena ayah ku sudah menunggu di depan masjid. Aku tidak perlu capek-capek menunggu lagii.

Setelah sampai dirumah aku istirahat dan berfikir kegiatan apa yang aku lakukan untuk mengisi kekosongan waktuku sembari menunggu hasil pengumuman sbmptn, ada beberapa tawaran dari saudara saudaraku, ada yang minta tolong untuk buka les privat, bantu mengajar di PAUD, sampai jaga toko sembako ehehehe, aku bersyukur punya mereka, yang masih sangat peduli dengan keaadaanku saat ini. Akhirnya aku mencoba untuk membuka les privat di rumahku ya bisa dibilang sangat murah bahkan kadang sukarela.

Dua minggu berlalu, tepat jam 5 sore portal pengumuman omline sbmptn di buka, buru-buru aku mebuka lewat ponsel bututku, hatiku berdebar sangat cepat, seperti melihat sosok pria idaman berada di depan dan memanggil namaku dengan panggilan yang special, saat sudah di buka tubuhku lemas bagaikan tanpa tulang karena untuk kesekian kalinya aku tidak lolos seleksi. Stress, sudah pasti tiada hari tanpa menangis, sampai aku tidak berani keluar kamar selama seminggu karena malu. Mataku sembab seperti terkena timpukn maling.

Dua orang datang bagai malaikat yang selalu ada disaat aku susah maupun senang. Yang menerimaku apa adanya tanpa butuh syarat. Mereka menerima kenyataan ini dengan legowo, tidak ada sepatah katapun yang menunjukkan mereka kecewa terhadapku.

Setiap waktu makan ibu ku selalu datang ke kamar ku untuk mengantarkan makanan, dan setiap ibuku datang, air mataku jatuh, karena aku merasa gagal membahagiakan beliau “sudah lah mba, jangan terlalu difikirkan jangan terlalu dipermasalahkan, itu hanya belum rezekimu saja, kegagalan itu adalah keberhasilan yang tertunda” kata kata ibu ku yang sedikit membuat perasaanku plong.
Otak ku sudah buntu sudah tidak bisa berfikir apa-apa lagi. Yang aku fikirkan hanyalah kesalahan ku membuat masa depanku suram, hanya menjadi seorang penjaga toko baju yang bekerja di toko orang lain. Mengapa aku tidk menuruti kata-kata ayahku ? hanya mengapa mengapa dan mengapa.

Tok tok tok, suara ketokan dari pintu kamarku, ternyata giliran ayahku masuk “ Mba, apa mau coba daftar lagi ? ujian mandiri mungkin ?” aku hanya terdiam sejenak “Tapi ujian mandiri di mana lagi yah ? aku capek ujian sana-sini, kalo hasilnya sama aja, malu, cuma buang buang duit” aku menepis semua perkataan ayah dan menganggapnya sepele. “ huss, jangan seperti itu yang Namanya juga usaha yaa nggak ada salahnya kan ?” . aku mengiyakan perkataan ayahku. Aku mendaftar ujian seleksi mandiri di salah satu perguruan tinggi negeri yang berbasis islam. Singkat cerita aku mengikuti ujian tersebut, dan bertemu teman baru dari purbalingga.

Menunggu pengumuman seminggu setelah pelaksanaan ujian, aku melanjutkan kegiatan usaha kecilku yaitu les privat yang sempat terhenti beberapa waktu. Pengumuman telah tiba lagi-lagi aku tidak lolos, ayah dan ibuku memberiku dukungan penuh kepada ku “ mungkin tahun ini belum takdirmu untuk kuliah nak, bersabarlah, temanmu juga banyak yang tidak lolos, bukan cuma kamu sendiri” aku mulai merasa sudah terbiasa dengan hal itu. “Tungkling” notif ponselku berbunyi dan itu ternyata dari temanku yang mengajak untuk mendaftar di universitas swasta yang tadinya tidak sempat terbesit di kepalaku. Aku tidak langsung meng iya kan ajakan itu. Aku sudah bosan dengan semua ini.

Mungkin aku ditakdirkan untuk sejenak beristirahat dan focus dengan les privatku. Setahun aku mengeluti usaha itu. Tahun ajaran baru pun dimulai, tanpa basa-basi aku mendaftar di Universitas yang sejarang tempatku menimba ilmu.
Alhamdulillah, disini aku bisa menjadi apa yang aku inginkan dan tentunya dengan dukungan penuh dari orang tua itu lebih menyenangkan. Aku belajar dari hal ini, bahwa benar ridho Alloh itu bergantung pada ridho kedua orang tua, sekeras apapun usahmu jika tanpa ridho orang tua maka akan sia-sia jalanmu. Berbaktilah kepada orang tua mu maka akan mulia jalanmu nanti.

~Thanks for reading~

Oleh : Dewi Fatmawati Faoziah

TrendingMore