Advertisement

Artikel

Dari Dapur, Sumur, dan Kasur

Redaksi Pelajar NU Banjarnegara
24 July, 2019, 4:50 PM WAT
Advertisement

Nazil Mukhsinal Khikma, IPPNU BANJARNEGARA -( Mahasiswa UIN Walisongo, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris dan leader of perkumpulan generasi perempuan gemilang  Kota Purwodadi)
Wanita sering ditampilkan sebagai mahluk kontroversi, tak ayal setiap gerak geriknya
selalu menjadi sorotan publik. Seperti halnya masalah kepemimpinan perempuan yang
hingga saat ini masih menjadi perbincangan hangat publik. Berbagai pendapat baik yang pro
maupun kontra pun bergemuruh. Bagi yang pro, wanita itu juga memiliki hak yang setara
dengan laki-laki yakni salah satunya menjadi pemimpin asalkan mereka mampu. Sedangkan
bagi yang kontra, mereka berpendapat bahwa wanita itu tugasnya hanya mencukupi
kebutuhan keluarga, wilayah dapur, sumur, dan kasur.

Keterwakilan perempuan dalam dunia politik terkesan masih dipandang sebelah mata.
Hal ini bisa kita lihat pada pemilihan umum legislatif (pileg) 2014 lalu, kaum hawa hanya
dipatok kuota sebesar 30 persen untuk mengisi nama calon yang ada dalam setiap partai.
Benarkah sebutan perempuan ditakdirkan sebagai mahluk yang lemah? Padahal sejatinya
tidak . wanita atau perempuan pada dasarnya memiliki kekuatan yang sama dengan laki-laki,
serta memiliki hak yang sama dengan laki-laki dalam berbagai hal termasuk menjadi seorang
pemimpin.

Menurut sebagian ulama’, perempuan haram menjadi pemimpin.Mereka beranggapan
bahwa wanita itu kodratnya dipimpin, bukan yang memimpin. Pendapat tersebut didasarkan
pada salah satu firman Allah SWT yang mengatakan, “Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi
kaum wanita”. (QS. An-Nisaa (4) : 34). Karena persepsi tersebut, akhirnya sebagian
masyarakat beranggapan bahwa perempuan tidak selayaknya menjadi pemimpin, apalagi
menjadi pemimpin rakyat karena wanita itu lemah, jiwanya labil, serta kurang cakap.
Faktor Budaya

Kepemimpinan seorang perempuan sudah ada sejak zaman Nabi Sulaiman. Yakni
pemimpin di sebuah negeri ‘arsyun ‘adzim atau kerajaan super power, negeri Saba’. Ia
merupakan pemimpin perempuan nan cantik jelita bernama Ratu Bilqis. Dengan
kecakapannya dalam memimpin negeri Saba’, akhirnya negeri Saba’ menjadi negeri yang
makmur dan tentram. Bahkan pada akhirnya Nabi Sulaiman tertarik pada Ratu Bilqis dan
menyatukan kedua kerajaan tersebut tanpa merendahkan Ratu Bilqis.
Di Indonesia sendiri, perempuan yang pertama kali memimpin adalah Ratu Sima
(674-695 M). Meskipun perempuan, Ratu Sima dapat memerintah kerajaan Kalingga (
Jepara, Jawa Tengah) dengan sangat adil dan bijaksana, sehingga tak mengherankan
rakyatnya hidup dengan makmur dan sejahtera. Kedua ratu tersebut merupakan bukti kalau
perempuan juga bisa menjadi pemimpin yang berhasil.
Pada dasarnya, masih banyaknya penolakan kepemimpinan seorang perempuan di
negeri ini bukan disebabkan oleh sosok perempuan yang dianggap tidak mampu mengemban

amanah sebagai pemimpin, melainkan karena faktor budaya. Yakni telah mengguritanya
tonggak kepemimpinan dipegang dan dikendalikan oleh laki-laki, sehingga keadaan tersebut
pada akhirnya melahirkan suatu sikap yang menghegemoni cara pandang masyarakat dan
seolah mereka dibuat selalu "mengamini" kepemimpinan laki-laki dibanding kepemimpinan
perempuan.
Dalam konteks negara Indonesia, masalah kepemimpinan wanita seharusnya tidak
perlu diperdebatkan. Apalagi dalam Pancasila dan Undang-Undang 19945 telah menjamin
kedudukan setiap warga negara tak terkecuali seorang wanita, serta hak-haknya dilindungi.
Memilih maupun dipilih merupakan salah satu hak bagi semua masyarakat tak terkecuali
seorang wanita.Memberikan Kesempatan

Harus diakui hingga saat ini masih banyak masyaraakat Indonesia yang masih
mempermasalahkan perempuan menjadi seorang pemimpin. Padahal di Indonesia sendiri,
banyak sekali pemimpin seorang wanita, mulai dari ranah legislatif hingga eksekutif, bahkan
yudikatif. Munculnya para pemimpin perempuan menunjukkan kalau kaum hawa juga bisa
sukses memimpin masyarakat jika mereka diberi kesempatan.
Di Indonesia, saat ini pun terdapat pula beberapa Kabupaten dan Kota serta Provinsi
yang pemimpinya adalah seorang perempuan, yang mereka tergolong sukses. 

Kota Surabaya misalnya, ada seorang bernama Tri Risma Harini, Kota Tangerang dipimpin oleh Airin Rachmi Diany. Di Jawa Tengah sendiri beberapa Kabupaten dipimpin oleh Bupati
perempuan, Widya Kandi Susanti (Kendal), Rina Iriani (Karangayar).

Dan tidak terlupakan, perjuangan orang kedua di Jawa Tengah beberapa waktu lalu,
yakni Rustriningsih. Rustri sukses mendampingi Bibit Waluyo memimpin Jawa Tengah
periode 2008-2013, dan memberikan kesuksesan bagi Jateng khususnya. Sebelumnya, Rustri pernah menjabat sebagai Bupati Kebumen  dua periode. Keberhasilan perempuan-perempuan itu sebagai pemimpin di daerahnya masing-masing adalah cermin dan bukti
bahwa  perempuan juga dapat menjadi pemimpin yang berhasil asal mereka diberi
kesempatan untuk membuktikan diri..

Bung Karno pernah mencetuskan, “Kita tidak bisa menyusun suatu negara dan
masyarakat, jika kita tidak mengerti soal perempuan. Sebab, perempuan adalah sumber dari kebudayaan.” Atas dasar itulah seharusnya para kaum hawa tergerak hati nuraninya untuk menjadi seorang pemimpin dan ikut mewarnai dunia perpolitikan. Dengan adanya perempuan dalam dunia politik, diharapkan mampu merubah wajah politik menjadi lebih manusiawi.
Jadi, sudah selayaknya masyarakat tidak lagi mempermasalahkan masalah kepemimpinan
perempuan, seharusnya masyarakat mendukung hal tersebut.

Untuk menjadi pemimpin perempuan yang sukses, maka perempuan itu harus aktif,
selektif, bebas, dinamis, kritis, bertanggung jawab dan mandiri, namun tetap santun, sopan,
dan terpelihara akhlaknya. Serta aktif dalam berbagai bidang kehidupan, baik di ranah publik
maupun di ranah domestik. Selain itu menjadi pemimpin perempuan bukanlah hal tabu yang

dilakukan. Akan tetapi pemimpin perempuan adalah sosok pemimpin yang bisa mendobrak
kesenjangan dan mewujudkan kesetaraan gender di Indonesia serta berani menyatakan
kebenaran walaupun maut tantangannya.

Selain itu perempuan harus menjadi pemimpin yang gemilang, yakni pemimpin yang
dapat memadukan antara keluarga dan jabatan menjadi satu. Sebab, sejatinya dua hal tersebut
sama pentingnya. Jika seorang pemimpin hanya mementingkan keluarganya maka rakyatnya
yang akan sengsara, begitu juga jika seorang pemimpin hanya mementingkan kepentingan
rakyat maka keluarganya terutama anaknya yang akan menanggung kesengsaraan karena
kurangnya kasih sayang.

Agar pemimpin perempuan tidak dianggap sebelah mata, maka sebagai generasi
perempuan penerus bangsa, kita harus memulai belajar untuk menjadi pemimpin, baik itu di
lingkungan sekolah, keluarga, organisasi, maupun masyarakat. Selain itu, dengan penanam
jiwa kepemimpinan sejak dini diharapkan pemimpin perempuan dan perempuan
berpendidikan semakin banyak di Indonesia, sehingga Indonesia menjadi negeri yang lebih
sejahtera, tentram, makmur serta jauh dari kata “korupsi, kolusi serta nepotisme” (KKN).
Wallahu a’lam bis-shawab.(Red'/Nazil M.K) Editor: Redaksi

TrendingMore