Iklan

I Have A Dream, Sebuah mimpi yang tidak biasa

Redaksi Pelajar NU Banjarnegara
Tuesday, July 23, 2019, 06:12 WIB Last Updated 2019-09-07T19:11:29Z




IPNU IPPNU BANJARNEGARA-

Malam ini ditemani rintik hujan yang membasahi Kota Banjarnegara, aku terduduk dibangku kamarku yang sederhana. Dihadapanku kini terpampang selembar kertas dengan daftar impian-impian yang hendak kucapai dalam hidup. Salah satu dari mimpi yang kutuliskan adalah meraih beasiswa kuliah di Universitas favorit dan menjadi seorang penulis terkenal.

       Aku sangat kagum dengan mereka yang berhasil menjadi penulis yang melegenda, yang tulisannya dibaca oleh jutaaan manusia di bumi. Bagiku, mereka adalah orang-orang hebat karena mampu menyihir para pembaca dengan tulisannya.

       Aku ingin seperti mereka, bisa menjadi seorang penulis hebat. Yang nantinya tulisanku itu akan dibaca oleh banyak orang dan disukai oleh semua kalangan. Jadi tidak hanya tersimpan rapi di draft pribadiku, tetapi kelak akan terpajang di seluruh toko buku yang ada dan menjadi buku yang best seller.

Suatu saat aku akan mewujudkan mimpi ini,  yakinku dalam hati.
"Rara."
       Suara itu membuyarkan anganku, aku segera menurup layar laptopku yang masih menyala dan membereskan meja belajarku yang berantakan, tetapi terhenti ketika sosok wanita paruh baya muncul setelah pintu terbuka.
"Kamu ngapain?" Tanyanya seraya duduk di tepi ranjang tempat tidurku.
"Nak, kamu harus tahu dunia itu tidak semudah apa yang kamu bayangkan, hidup juga tidak seindah yang kamu impikan." Ucap seseorang yang biasa kupanggil dengan sebutan Ibu.
"Kamu harus sadar kita bukan dari keluarga berada, Ibu nyekolahin kamu di SMK supaya kamu lulus bisa langsung kerja dan bantu keluarga. Kamu punya tanggungjawab terhadap adikmu karena kamu anak pertama."
Ada jeda sebelum akhirnya Ibu kembali membuka suara.

"Ibu sudah gak sanggup nyekolahin kamu lagi seperti yang kamu impikan di kertas itu. Harapan Ibu setelah lulus kamu bisa langsung cari kerja dan bantu Ibu." Ibu mengedarkan pandang kesekeliling kamarku dan berhenti ditumpukkan kertas-kertas yang ada di meja belajarku.
Aku tahu benar maksud Ibu. Kertas-kertas ini adalah sia-sia, sama halnya dengan mimpiku.
"Sudah berapa kali Ibu bilang? Berhenti ngelakuin hal-hal yang sia-sia dan gak ada gunanya. Gunain waktumu untuk belajar mata pelajaran produktif yang bisa kamu gunain buat bekal kamu kerja nantinya. Kamu harus bisa bagi waktu, antara sekolah, belajar dan  bantu Ibu. Gak ada acara nulis apa gitu yang lain, tugasmu hanya belajar dan selesaikan sekolahmu dengan baik." Kalimat itu lagi.
Aku hanya bisa diam terpaku. Aku bahkan tak sadar jika sedari tadi mataku sudah menahan bendungan airmata yang siap membanjiri wajahku kapan saja.
       Ibu berbalik begitu saja setelah mengatakan berbagai rentetan kalimat yang membuatku merasa ini memang sesuatu yang sia-sia, meninggalkanku yang hanya bisa menatap nanar kertas-kertas yang berantakan dimeja belajarku.
       Namaku Aksara Ararinda, dan tangisku pecah dikeheningan malam yang dingin bersama dengan suara rintik hujan yang tak henti-hentinya mengguyur bumi ini.
***
       Pagi ini matahari mulai memancarkan senyumnya. Hujan semalam tak membuat matahari melupakan tugasnya sebagai pemberi cahaya untuk bumi. Sama halnya dengan matahari, aku juga tidak melupakan tugasku sebagai seorang siswa, walaupun hujan airmata semalam telah melumpuhkan sebagian semangatku.
Pagi ini tepat pukul 06.30 aku telah sampai di sekolah. Aku berjalan seorang diri di koridor sekolah menuju kelasku yang berada di lantai dua.
Pukk...
Seseorang menepuk pundakku, dan aku menoleh,
"Selamat pagi Aksa." Sapanya riang dihiasi cengiran khas miliknya yang membuatku betah berteman ah lebih tepatnya bersahabat dengannya. Dia Muhammad Zidan Akbar, yang biasa disapa Zidan.
       Aku adalah tipe orang yang tidak pandai bersosialisasi dengan banyak orang, itu sebabnya aku tidak banyak memiliki teman di sekolah.
       Hanya Zidan yang mengerti keadaanku. Dia baik, juga pengertian, ada dikala aku bahagia dan siap menjadi orang pertama yang akan mendengarkan keluh kesahku, mendukungku, menyemangatiku dikala aku sedang terpuruk dan jatuh. Itulah Zidan di mataku.
"Wahai Aksara, mengapa di pagi hari wajahmu sudah mendung?" Celoteh Zidan dengan pembawaannya yang konyol.
"Aku gak kenapa kok." Kupaksakan senyum agar Zidan tak sadar kalau semalam aku menangis. Aku tidak ingin membebaninya dengan hal sepele ini. Ya sepele, karena ini adalah sebuah kesia-siaan.
"Aku tahu tadi malem kamu nangis lagi Sa, mau cerita?" Tawarnya seraya mengajakku duduk di depan kelas.
Dia memang serba tahu tanpa ku beritahu.
"Gimana?"
Aku menyerngit bingung "Apanya yang gimana?"
"Ish aku serius Sa, cerita ayo cerita."
"Apanya yang harus diceritain coba?" Senyumku terbit ketika melihatnya mencak-mencak pura-pura ngambek di depanku.
"Ah ya Sa, bagaimana dengan project novelmu? Ini kesempatan bagus, kamu harus semangat tunjukin ke seluruh penjuru dunia kalo kamu adalah saudara jauhnya JK Rowling."
         Seketika aku terdiam membisu, senyum yang tadi terbit pun sekarang pudar kala mendengarkan pertanyaan pernyataan Zidan. Ah Zidan kenapa harus itu yang dibahas? Plis aku sedang tidak mau bahas ini. Tapi aku sudah memutuskan untuk berusaha berhenti ngelakuin hal sia-sia yang Ibu maksud, sekarang aku hanya akan fokus pada pelajaran-pelajaran sekolah yang membosankan menurutku.
"Aku berhenti Zid. Aksa nyerah."Aku menjawab dengan suara pelan sambil menunduk. Aku tak berani menatap matanya.
"Maksud kamu apa hey? Nyerah? Kamu mau berhenti ngejar mimpi-mimpi kamu? Segini mudahnya? Katanya kamu pengen kuliah jurusan sastra pengen nerbitin buku, terus mana perjuangannya?"
Itu memang mimpiku Zid, aku ingin sekali merealisasikan semuanya. Tapi tidak semudah itu, apalagi ini menyangkut keluarga. Aku tidak bisa apa-apa jika ini sudah menyangkut keluarga.
        Aku menghela nafas lalu akhirnya menjawab "Tapi semuanya tidak semudah itu Zid, hidupku jauh berbeda dengan kamu. Kamu harus tahu, ada beberapa orang yang tidak bernasib baik sepertimu."
"Tapi ini mimpi kamu Sa hobi kamu, ini hidup kamu dan kamu yang nentuin bagaimana akhirnya. Kenapa lagi? Masalah Ibu lagi?"
"Mungkin bagi kamu yang punya keluarga berada, mimpi-mimpi masa depan adalah sesuatu yang harus benar-benar dicapai. Karena kamu punya orang tua yang selalu mendukung kamu, mendukung mimpi-mimpi kamu. Kamu sekolah juga enak kan? Uang tinggal minta ke orang tua pasti bakal dikasih. Kamu tidak pernah mikirin yang namanya biaya sekolah, biaya buku dan yang lainnya kan? Kamu juga gak pernah mikir apa kamu besok masih bisa sekolah?"
Zidan menatapku sendu. Aku tau tatapan itu, tatapan orang kasihan. Aku benci tatapan itu aku benci. Aku tidak mau dikasihani orang lain walaupun itu bahkan sahabatku.
"Kamu gak mau mikirin lagi? Ini kesempatan bagus buat kamu, atau aku harus bujuk ibu kamu biar ngijinin kamu berkarya?" raut muka Zidan yang seakan memohon aku untuk tidak berhenti ini menyesakkan dadaku. Aku sesak Zidan, aku benci diriku aku benci hidupku.
Ingin aku berkata iya Zidan, ingin aku tetap perjuangin apa yang sudah diperjuangkan. Tapi memang nyatanya takdirku berkata lain.
"Percumah. Kata Ibu berhenti ngelakuin hal yang sia-sia. Mungkin benar kata Ibu, aku harus selalu ingat siapa aku."
"Aku ke kelas dulu Zidan. Masih banyak hal lain yang perlu diselesaikan di sekolah yang membosankan ini haha, sudah lah lupakan hal ini." tertawa hambar yang hanya bisa aku lakukan.
Zidan mengangguk lemah seraya mengikuti aku dari belakang untuk menuju ke kelas.
***
       Bel pulang sekolah berbunyi. Menandakan waktu sekolah telah usai. Aku segera merapikan barang-barangku yang berserakan di meja. Meja pojok belakang itulah tempatku. Aku duduk bersama seorang siswi berkacamata yang cerdas, kemampuan berbicara di depan umumnya juga bagus, entahlah kenapa aku bisa dapat tempat duduk bersamanya. Dia yang cerdas bisa duduk denganku yang bahkan nilai setiap ulangan matematikaku tidak lebih dari 50.
       Hahaha inilah aku, aku bukanlah siswi pandai dikelas, aku juga bukan siswi aktif yang setiap guru menerangkan, setiap ada presentasi selalu mempunyai segudang pertanyaan maupun pernyataan. Aku benci jadi pusat perhatian, itulah sebabnya aku tidak pandai berbicara di depan umum. Huhh presentasi di depan kelas saja aku hanya diam menunduk saat kelompokku menjelaskan.
        Aku adalah aku. Aksara Ararinda. Ah lebih tepatnya Aksara yang payah. Tapi aku teringat kata guru olahragaku dulu waktu smp, katanya kemampuan setiap orang itu berbeda-beda dan semua mempunyai kecerdasan masing-masing. Orang cerdas bukan hanya mereka yang memiliki kemampuan baik dalam menyelesaikan berbagai soal di bangku sekolah, terutama mata pelajaran matematika dan ilmu berhitung lainnya.
          Ada yang pandai dalam bidang logika matematika, tetapi mereka tidak pandai dalam hal olahraga. Namun mereka kurang pandai dalam hal matematika, mereka bisa menjadi pemusik yang hebat, penulis yang terkenal ataupun olahragawan internasional. Jadi kemampuan setiap orang itu berbeda-beda. Bahkan Howard Earl Gardner seorang tokoh pendidikan dan psikologi berkebangsaan Amerika ini berpendapat bahwa kecerdasan manusia itu ada sembilan dan setiap orang memiliki salah satu dari itu.
         Aku memang tidak cerdas seperti teman sebangkuku yang bernama Ani ini, tetapi aku juga memiliki hobi yang sekaligus menjadi salah satu impianku. Ah sepertinya aku tidak perlu memperjelas lagi karena sudah aku jelaskan diawal ceritaku. Mimpi tinggi yang ingin aku perjuangkan, tetapi jika orangtua tidak mendukung aku bisa apa? Tapi aku harus berusaha merelakan daripada memaksakan, aku harus belajar mengikhlaskan walaupun ini memang berat. Tapi aku yakin ini adalah yang terbaik karena ini pilihan Ibuku.
          Ya aku akan berusaha ikhlas jika harus merelakan salah satu impianku ini demi keluarga. Setidaknya jika aku tidak bisa jadi penulis, tidak bisa kuliah jurusan sastra yang aku inginkan, kelak suatu saat nanti aku bisa melihat adik-adikku memakai toga dan piagam kebanggaan serta tidak lupa gelar dibelakang namanya, jika aku tidak bisa kuliah karena tuntutan ekonomi sekarang, aku harus bisa menyekolahkan adik-adikku setinggi mungkin, mereka tidak boleh sepertiku.
***
Pukul 16.49.
         Aku sampai di rumah sederhana yang mampu memberikan kenyamanan tiada duanya dari tempat yang mewah sekalipun.
"Assalamu'alaikum Ibu, Dek." Salamku seraya masuk kedalam rumah yang tidak terkunci ini.
"Wa'alaikumussalam Ra, Ibu di kamarmu." terdengar suara Ibu dari dalam kemarku.
         Aku segera beranjak ke kamar dan menemui Ibu yang sedang duduk di meja belajarku sambil membaca-baca kertas-kertas yang tergeletak di meja. Aku mendekat kearah Ibu dan mencium tangannya yang terasa kasar, iya kasar karena Ibu bekerja terlalu keras untuk membantu Bapak yang sedang merantau di Kota Metropolitan demi Aku dan adik-adikku.
"Maaf bu, itu kertas-kertasnya belum Rara beresin. Maafin Rara selama ini tidak patuh sama Ibu. Sekarang Rara sadar Ibu ngelakuin ini semua demi Rara. Rara akan berusaha ngelakuin apa yang memang sudah menjadi tanggungjawab Rara." Aku terduduk bersimpuh di lantai, aku tidak berani menatap Ibu.
         Ibu tersenyum seraya menyuruhku untuk berdiri, Ibu mengusap kepalaku yang tertutup kain kerudung. "Yang seharusnya minta maaf itu Ibu, Ibu terlalu mengekang kamu, mengekang duniamu. Maafin Ibu ya, Ibu cuma takut kamu akan mengabaikan tugasmu dikeluarga dan menganggu sekolahmu. Karena menurut Ibu menulis itu hanya membuang-buang waktu juga tidak menjanjikan apapun."
"Nggak Bu Ibu gak salah, sekarang aku gak papa kok. Aku juga akan berhenti menulis dan mulai fokus sama sekolah sama nilai matematikaku yang hancur hehe." Aku tersenyum menatap Ibu. Ibuku yang hebat Ibuku tersayang.
"Kamu jangan berhenti menulis ya, jangan berhenti bermimpi. Sekarang Ibu tahu seberapa berharganya sebuah mimpi, seberapa pentingnya sebuah impian. Kerjar terus ya tunjukin ke Ibu kalo mimpi kamu itu tidak sia-sia." ucap Ibu sambil menepuk pundakku pelan.
         Aku menyerngit bingung, kenapa Ibu tiba-tiba berubah? Bukankah Ibu sangat tidak menyukai aku menulis? Kenapa sekarang mendukungku untuk mengejar mimpiku?
         Ibu tertawa renyah saat menatapku yang kebingungan. "Tadi ada Zidan kesini, dia menceritakan semuanya ke Ibu. Tentang mimpimu, cita-citamu, perjuanganmu, bahkan tentang harapanmu untuk keluarga. Zidan menyadarkan Ibu, Zidan membuka mata hati Ibu. Jadi sekarang Ibu tahu kenapa kamu ingin jadi penulis, kenapa kamu ingin sekolah jurusan sastra."
           Seakan tak percaya pikiranku melayang bersamaan dengan Ibu yang tiba-tiba memelukku. Jadi sekarang Ibu mendukungku? Ibu tidak akan marah lagi kalau malam-malam aku masih berkutat dengan kertas dan laptop? Ibu tidak akan melarangku jika aku mengikuti berbagai lomba-lomba menulis? Ah apakah aku sedang bermimpi di sore hari?
"Ibu serius? Ibu gak akan larang aku untuk menulis?" Aku bertanya pada Ibu untuk memastikan kalau aku tidak sedang bermimpi di sore hari.
"Nggak sayang, Ibu serius. Bilang makasih sama Zidan ya, karena dia udah nyadarin Ibu. Wahh ngomong-ngomong ada apa nih sama Zidan, kok Zidan baik banget sampe bela-belain ketemu Ibu hmm?" Bisik Ibu di telingaku sambil menggodaku karena Zidan.
"Apaan sih Bu, Rara sama Zidan itu sahabat selamanya tau. Emang Zidan bilang apa aja Bu?" Aku penasaran kok bisa ya Zidan membujuk ibuku, haha ternyata dia bisa serius juga? Aku senyum-senyum sendiri memikirkan ini. Eh
"Ih kamu kepo ya ciee, coba dong tanya sendiri ke Zidan." Ibu semakin gencar menggodaku.
"Tau ah Ibu. Oiya rumah kok sepi? Adik-adik kemana Bu?" Aku baru ngeh kalau rumah sepi, sedari tadi tidak melihat mereka di rumah.
"Mereka kan lagi ngaji di rumahnya Pak Kya. Oiya sini dong Ibu pengen baca-baca karya kamu sudah sampe mana ya?"
         Aku mengikuti Ibu untuk duduk di samping tempat tidur dengan senyuman  yang tak pudar diwajahku.
"Wahh ternyata berbakat ya. Kalau ada Bapak di sini pasti Bapak bangga. Jadi rindu Bapak ya Ra." Celoteh Ibu sambil memandangi langit dari depan jendela kamar yang terbuka.
          Langit yang berubah warnanya menjadi jingga kemerah-merahan yang disebabkan oleh matahari yang tenggelam dari peraduannya, orang-orang biasanya menyebut fenomena ini dengan sebutan  senja.
        Senja yang indah sore ini, tidak seperti senja-senja sebelumnya saat aku hanya bisa memandanginya seorang diri dalam keheningan. Banyak orang yang bilang senja itu indah lagi mempesona, ya aku sependapat dengan mereka apalagi kita menikmati senja dengan orang tersayang. Ah seandainya Bapak di sini, pasti akan semakin lengkap semuanya.
        Terimakasih Tuhan, Aku tidak pernah kecewa dalam berdoa kepadamu. Aku percaya Skenario terbaik manusia adalah Skenario-Mu, terimakasih untuk semua yang telah Engkau berikan kepadaku, termasuk diantaranya Adalah Ibu, Bapak, kedua adikku, dan Zidan.
        Zidan konyol selalu saja bisa membuat surprise yang tak terduga untukku, terimakasih Zidan terimakasih untuk semuanya, kalau saja sekarang kamu disini sudah ku lempar kamu ke kolam ikan sebelah rumahku hahaha. Awas kamu Zidan, besok akan kubalas kamu dengan surprise yang lebih tak terduga, tunggu saja. (Sholehah S.)

Komentar

Tampilkan

Terkini

PUISI

+