-->

Iklan

CINTA SEJATI MENURUT PANDANGAN ISLAM

Zul
Monday, October 28, 2019, 14:30 WIB Last Updated 2019-10-28T07:34:42Z
Logo TanGho's Jornalis
GAMBAR ISTIMEWA OLEH : Santri Tanbihul Ghofilin

Rizqi Hidayatulloh
, Pelajarnu-bara.or.id- Kata pujangga, cinta letaknya di hati. Meskipun tersembunyi, namun getarannya tampak sekali. Ia mampu mempengaruhi pikiran sekaligus mengendalikan tindakan. Sungguh cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat, dan kemarahan menjadi rahmat. Cintalah yang mampu melunakkan besi, menghancurkan batu karang, membangkitkan yang mati, dan meniupkan kehidupan padanya membuat budak menjadi pemimpin. Inilah dahsyatnya sebuah cinta. (Jalaludin Rumi).

Namun, hati-hati juga dengan cinta, karena cinta juga dapat membuat orang sehat menjadi sakit, orang normal menjadi gila, orang kaya menjadi miskin, raja menjadi budak, jika cintanya itu disambut oleh para pecinta palsu. Cinta yang tidak dilandasi kepada Allah Swt. Itulah para pecinta dunia, harta, dan wanita. Dia lupa akan cinta Allah, cinta yang begitu agung, cinta yang murni, cinta yang mulia, dan cinta yang suci, karena bermuara dari Sang Pemilik Cinta Abadi, Dialah Allah Rabbul Izzati.

Cinta Allah adalah cinta yang tak pernah bertepi. Jika kita sudah mendapatkan cinta-Nya dan manisnya bercinta dengan Allah, maka tak ada lagi keluhan, tak ada lagi tubuh lesu, dan tak ada lagi tatapan kuyu. Yang ada adalaah tatapaan optimis menghadapi segala cobaan dan rintangan dalaam hidup. Tubuh yang kuat dalam beribadah dan melangkah menggapai cita-cita tertinggi, yakni syahid fii sabilillah.

Tak jarang orang mengaku mencintai Allah Swt., dan sering mengatakan mencintai Rasulullah Saw., tapi bagaimana mungkin semua itu diterima Allah tanpa adanya bukti yang diberikan?. Sebagaimana seorang Arjuna yang mengembara, menyeberangi lautan luas, dan mendaki puncak gunung yang tinggi demi mendapatkan cinta Srikandi, sang wanita pujaan hatinya. Bagaimana mungkin menggapai cinta Allah, tapi dalam pikirannya selalu dibayang-bayangi oleh wanita atau pria yang dicintai. Tak mungkin dalam satu hati dipenuhi oleh dua cinta. Salah satunya pasti menolak, kecuali cinta yang dilandasi oleh cinta kepada-Nya semata, Allah Azza wa Jalla.

Di saat Allah menguji cintanya dengan memisahkannya dari apa yang membuat dia lalai dalam mengingat Allah, seperti memisahkan seorang gadis dengan calon suaminya, tak jarang gadis itu langsung lemah dan terbaring sakit. Di saat seorang suami yang istrinya dipanggil menghadap Ilahi, sang suamipun tak punya semangat dalam hidup. Di saat harta yang dimilikinya hangus terbakar, banyak orang hijrah ke rumah sakit jiwa. Semua ini adalah bentuk ujian dari Allah, karena Allah ingin melihat seberapa dalam cinta hamba-Nya kepada-Nya. Allah menginginkan bukti, namun kebanyakan orang tak berdaya membuktikannya. Justru malah semakin menipis cinta dan iman seseorang disaat Allah menarik secuil nikmat yang diberi-Nya.

Itu semua adalah bentuk cinta palsu, dan cinta semu dari seorang makhluk terhadap Kholiknya. Padahal, semua sudah diatur oleh Allah baik rezeki, kematian, pasangan hidup, serta langkah hidup kita. Amat merugi bagi manusia yang hanya dilelahkan oleh cinta dunia dengan mengejar cinta makhluk, memburu harta dan enggan menolong orang yang susah. Padahal nasib kita di akhirat nanti ditentukan oleh diri kita sendiri ketika hidup di dunia. Bersungguh-sungguh mencintai Allah, ataukah terlena oleh dunia yang fana. Jika cinta kepada makhluk melibihi cintanya kepada Allah, maka itu merupakan satu diantara penyebab do’a tak terkabulkan.

Sekarang, marilah kita bermuhasabah sejenak. Muhasabah dulu, ya...
Bagaimana mungkin Allah mengabulkan permintaan seorang hamba yang merintih menengadah (berdo'a) kepada Allah dimalam hari, tetapi ketika siang hari, diapun melakukan maksiat. Bagaimana mungkin do’a seorang gadis yang ingin mendapatkan laki-laki yang sholeh terkabulkan, sedang dirinya sendiri belum sholehah. Bagaimana mungkin do’a seorang hamba yang mendambakan rumah tangga sakinah, sedang dirinya masih diliputi oleh keegoisan sebagai pemimmpin rumah tangga. Bagaimana mungkin keinginan akan bangsa yang bermartabat dapat terwujud, sedangkan diri pribadi belum bisa menjadi teladan yang baik?.

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan diatas, hanya diri Anda sendirilah yang bisa menjawabnya.
Banyak orang mengaku cinta kepada Allah, tetapi gagal unuk mewujudkannya, hanya disebabkan secuil musibah yang ditimpakan kepadanya. Yakinlah yaa Ukhti wa Akhi, bahwa kesenangan dan kesusahan adalah bentuk kasih sayang cinta Allah kepada hamba-Nya yang beriman.

Dengan kesusahan, Allah hendak memberikan pelajaran kepada kita supaya sadar bahwa sebagai makhluk yang lemah kita tidak bisa berbuat apa-apa tanpa-NYA. Saat ini, tinggal bagaimana kita membuktikannya, dan berjuang keras untuk memperlihatkan cinta kita kepada Allah, agar kita terhindar dari cinta palsu.

Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang benar-benar mau berkorban hanya untuk agama islam. Demi membuktikan cinta kepada Allah, ada beberapa hal yang perlu kita persiapkan, antara lain adalah :

 1. Landasi diri kita ini dengan iman yang kuat
Terkadang banyak orang berkata "kuatkan imanmu!!!", tetapi kita tidak tahu bagaimana caranya meningkatkan atau menguatkan iman. Caranya yakni ketika kita akan melakukan maksiat, dengan kata paksa dan berusaha sekuat mungkin kita menghindarinya. Dengan begitu, Alloh akan meningkatkan dan menguatkan iman kita.

 2. Ikhlas dalam beramal
There are some meaning of “ikhlas”. Wallahu a’lam bis showab. Ikhlas yng dimaksud dalam hal ini adalah ikhlas dalam beramal. Untuk apa??, untuk menggapai cinta Allah SWT. Pokoknya amal baik apapun jika dilaksanakan dengan ikhlas just because of Allah, pasti akan tampak balasan yang sebanding. Untuk itu marilah kita belajar untuk ikhlas dalam beramal.

 3. Siapkan kebaikan internal dan eksternal pada diri kita
 Kebaikan internal yaitu berupaya keras untuk melaksanakan beribadah wajib dan sunnah. For example "qiyamul lail (sholat malam), shaum (puasa) sunnah seperti apa yang sudah diajarkan Rasulullah… ". Selain itu kebaikan internal lainnya yaitu membaca Al-Qur’anul kariim sebagai Nuurun Qolbu wa Hayyatan Thoyyibah (Penerang hati dan Penghidupan yang baik), serta haus akan ilmu, tholibbul ‘ilmu naafii'atun fid dunya wal akhiroh…, amien. (menuntut ilmu yang berguna bagi dunia dan akhirat).

Sedangan kebaikan eksternal adalah buah dari ibadah yang kita lakukan kepada Allah, dengan ke-istiqomahan mengaplikasikannya dalam setiap langkah di bumi Allah  dan disetiap tarikan nafas disepanjang kehidupan ini. Dengan itu, insya Allah kita akan menggapai cinta dan keridho’an Allah Swt.
 Wallahu a’alam bis showab (red/dzt) Editor : Redaksi
Komentar

Tampilkan

Terkini

PUISI

+