-->

Iklan

Nasionalisme Kaum Sarungan dan Analisa Konflik Horizontal

Redaksi Pelajar NU Banjarnegara
Tuesday, October 22, 2019, 08:59 WIB Last Updated 2019-10-24T10:06:42Z

Dafiqul Fariq Azafil Khariri, IPNU IPPNU BANJARNEGARA- Memaknai istilah santri ialah seorang yang mendalami ilmu-ilmu agama secara sungguh-sungguh, mempunyai etika sopan santun yang baik, santri sangat lekat dengan pelajaran-pelajaran ilmu agama klasik maupun kontemporer, mempelajari agama dari sikap filantropi sampai ilmu untuk menggapai mardhatillah.

Jika ditilik dari realita kehidupan, santri bisa disebut dengan kaum sarungan, kehidupan yang dijalani santri pun sangatlah sederhana, mempunyai sikap egaliter dalam berkawan, mempunyai sikap solidaritas yang tinggi dalam memupuk rasa kekeluargaan, dan pastinya mempunyai ghirroh tinggi dalam menjaga kedaulatan agama, bangsa, dan negara.

Tapi saat ini, kritik negatif terhadap santri lumayan banyak karena tidak sedikit santri yang lebih mementingkan ilmu daripada adab, bukankah lebih baik orang yang beradab walaupun kere ilmu, daripada orang yang kaya ilmu tapi kere adab ?.

Hal seperti ini bisa saja menimbulkan hilangnya kredibilitas dari kalangan masyarakat terhadap santri, karena para santri yang tahu banyak tentang agama, ternyata tidak bisa ditiru sikapnya, sangat peka terhadap ilmu tapi kurang peka terhadap analisa konflik horizontal, yaitu kurang mempunyai sumbangsih dalam penyelesaian suatu perpecahan bangsa, padahal jika kita menengok sejarah kemerdekaan Indonesia, banyak santri yang ikut andil dalam berjuang melawan penjajah.


Nasionalisme kaum sarungan

"Agama dan Nasionalisme adalah dua kutub yang tidak berseberangan, nasionalisme adalah bagian dari agama dan keduanya saling menguatkan”.
KH, Hasyim Asy'arie (pendiri Nahdlatul Ulama)

Ghirroh mencintai NKRI memang sudah mendarah daging bagi kalangan santri, kecintaan terhadap suatu tatanan sosial yang baik menjadi lebih besar jika diiringi bekal ilmu agama yang berafiliasi dengan sikap penuh kasih sayang, mengutamakan sifat memanusiakan manusia dalam peranannya sebagai intelektual religius di tengah masyarakat.


Oleh sebab itu, menjadi suatu keharusan bagi seorang santri untuk membimbing masyarakat dalam memupuk sikap nasionalisme yang utuh agar tidak terjerumus pada doktrin-doktrin dogmatis para pengasong khilafah yang ingin meng-arabkan Indonesia dan membenci suatu tatanan masyarakat yang mempunyai kebudayaan yang kata mereka (pengasong khilafah) jauh dari unsur-unsur Islam, padahal, jika corak Islam Arab dan Islam  Nusantara dipadukan tidak berefek antagonistis, malah akan berefek humanis dan ramah.

Bung Karno menjelaskan, bahwa untuk kehidupan umat manusia di seluruh dunia perlu adanya hubungan internasional yang sehat. 

Tapi hubungan internasional yang sehat itu hanya dapat diselenggarakan, apabila isi dari dunia ini semuanya adalah nasionalisme-nasionalisme yang sehat. Jadi lebih dulu harus ada nasionalisme-nasionalisme yang sehat.

Oleh sebab itu, peran santri yang paling utama adalah untuk mengubah suatu tatanan masyarakat menjadi lebih baik, dan untuk melahirkan serta memelihara pertumbuhan nasionalisme yang sehat[1].

Santri dan Analisa konflik horizontal

Walaupun masih terlalu dini untuk mempelajari teori-teori analisa konflik, setidaknya hal ini bisa menjadi suatu muhasabah diri dan kritik auto kritik bagi kalangan santri.

Dalam kalangan santri yang berhaluan Ahlussunnah wal Jama'ah, setidaknya bisa mempelajari sebuah konsepsi yang menjadi landasan, yaitu sikap tasamuh (toleransi), tawazzun (seimbang), tawassuth (moderat), dan i'tidal (tegak lurus), menurut Gus Roy Murtadho[2] mengenai 4 pilar landasan tersebut, salah satu di dalamnya ada prinsip i'tidal atau berdiri tegak dan itu harus menjadi tameng utama, dari sinilah keberpihakan kepada kaum Mustadl'afin harus menjadi visi utama perlawanan aswaja terhadap penindasan, keempat prinsip tadi mengandalkan sinergi satu sama lain jika tidak maka mustahil kita bisa bertindak secara moderat.
([1]  Sayuti Melik, Antara Marhaenisme dan Marxisme, Kendi, Temanggung, 2018, hlm. 40.[2] Koordinator nasional FNKSDA (Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam).

Namun jika dilihat dari realitas kehidupan saat ini, jarang adanya santri yang mempunyai semangat untuk ikut andil dalam pengentasan kemiskinan dan melawan ketidakadilan, serta kurang mengamalkan sifat revolusioner islam. Padahal, dulu Nabi Muhammad SAW telah mencotohkan suatu gerakan revolusi yang gemilang dengan membebaskan seluruh rakyat dari penghisapan dan melahirkan sebuah struktur kekuasaan baru yang melindungi kaum miskin dan menjamin berlangsungnya satu tatanan yang lebih adil, tapi seiring berkembangnya umat islam, ajaran " revolusioner" mulai lumpuh karena dua hal; yakni arus kapitalisme modal dan memudarnya perhatian serta solidaritas kalangan Islam terhadap kaum lemah.


Maka dari itu, suatu urgensi moral bagi kalangan santri untuk lebih bergelora dan menggalakkan sifat revolusioner islam dalam pergerakan di tengah-tengah masyarakat, walaupun hanya sekedar retorika berapi-api dan belum mempunyai langkah yang konkret untuk mewujudkan masyarakat adil makmur, setidaknya dengan langkah demikian bisa mengurangi ekspansi penindasan terhadap masyarakat kelas bawah yang termaginalkan dan tersubordinasi.


Peran penting bagi kalangan santri sendiri adalah dengan memerangi kebodohan dan pembodohan di lingkup masyarakat dengan cara membuat kegiatan yang edukatif, seperti meningkatkan literasi, membuat kajian-kajian ilmu yang tidak hanya sekedar teoretis namun harus diiringi dengan praktik yang optimal. Hal ini bertujuan untuk menggerakkan masyarakat agar bisa berperang melawan kebodohan dan pembodohan.


Maka dari itu, semoga kalangan santri bisa membuat garis perjuangan dengan mengamalkan sebuah kalimat wejangan dari senior organisasi penulis, yaitu "Sowwu sufufakum fainna taswiyatas sufufi min tamamil harokah", luruskanlah barisan kalian  karena pelurusan barisan merupakan bagian dari penegakkan gerakan.


Dengan menjadikan wejangan di atas sebagai prinsip santri yang lekat dengan intelektual religius, Insyaallah akan bisa menjadikan hal yang masif terhadap perjuangan masyarakat untuk menyongsong dan membuat perdababan yang lebih beradab.


Dengan adanya sebuah tulisan ini, setidaknya bisa menjadi sebuah auto kritik bagi kalangan santri dalam memaknai perayaan hari Santri yang berjargon Santri Unggul Indonesia Makmur, semoga tidak hanya seremonial belaka dengan twiboon-twiboon toleran pluralisme, semoga bisa memupuk kecintaan tanah air dan tidak bermental kolonialistik. (red'/Dafiq) Editor: Tria. K. Nisa


Komentar

Tampilkan

Terkini

PUISI

+