Iklan

PREDIKATMU DULU DAN KINI

Zul
Thursday, October 31, 2019, 10:05 WIB Last Updated 2019-10-31T03:23:10Z

Rizal maksum, Pelajarnu-bara.or.id-  Indonesia sepatutnya bangga dan memberikan penghargaan tertinggi kepada santri akan perannya yang turut membantu mensejahterakan rakyat. Bukannya malah dianggap seperti anak tiri di negeri sendiri. Padahal dulu ketika Nusantara masih berjaya dan belum kedatangan Portugis, seseorang belum bisa disebut sebagai sultan sebelum menamatkan pendidikannya di Pesantren.
Begitu pula putra sultan belum layak digelari pangeran sebelum mengenyam pendidikan pesantren.

Pesantren merupakan lambang identitas Intelektual Nusantara, lambang Intelegensi Rakyat
Indonesia dimata dunia Islam. Dulu, pemerintahan Islam terbesar berpusat di Istanbul ; Osmaniyah. Banyak putra-putri bangsa Indonesia yang merupakan perwakilan delegasi wilayah Asia Tenggara mengajar disekolah-sekolah milik kerajaan Osmani,bahkan sampai menjadi Mufti Makkah. Sebut saja Syaikh Nawawi al-Bantani, Syaikh Mahfudz at-Termasi dan masih banyak lagi. Pada saat itu, Ulama adalah Menteri, Menteri adalah Ulama dan kyai adalah Hakim, Hakim adalah kyai. Zaman dahulu kerajaan-kerajaan Islam seperti Demak, Ternate Tidore, Goa Tallo berlomba-lomba mendatangkan Ulama dari luar pulau untuk mengajar dan membimbing rakyat. Tidak hanya itu, mereke juga dijadikan sebagai Qodhi (Hakim). Mereka sangat dihargai oleh Negara, dimuliakan oleh rajanya dan mendapatkan tempat yang istimewa dihati rakyat. Saatnya mempertegas peran santri dalam mendukung peradaban Indonesia. Mempertegas eksistensi santri dalam memajukan bangsa yang adil dan makmur. Mengembalikan peran santri yang hampir terkubur dalam pengetahuan Indonesia, bahwasannya santri dalam dunia Internasional adalah diplomat yang unggul.

K.H. Agus Salim merupakan diplomat yang menbuat kagum van Mook, tokoh politik Belanda. Dengan bahasanya yang singkat, padat, jelas dan lugas, beliau mampu membuat kagum van Mook. Pada suatu ketika K.H. Agus Salim diundang oleh van Mook untuk berdialog dengannya. Diawal dialog seolah-olah van Mooklah yang menguasai jalannya dialog,  akan tetapi diakhir dialog K.H. Agus Salim dengan materinya dan disampaikan secara singkat, padat, jelas dan lugas membuat van mook serta pejabat-pejabat Belanda terkagum-kagum. K.H. Agus Salim merupakan anak didik dari Hos Cokroaminoto yang dijuluki raja Tanpa Mahkota oleh pemerintah Belanda yang mana beliau adalah seorang santri. Buya Hamka, siapa yang tak kenal beliau? pengarang dua novel dengan judul "dibawah lindungan Ka'bah dan Tenggelamnya kapal van Der Wijk" yang telah difilmkan. Dikalangan Penyair beliaulah bintangnya, dikalangan para mufti beliau inspirasinya dan dikalangn politisi beliaulah guru besarnya. Orang pertama yang menjabat sebagai MUI. Beliau merupakan hadiah besar yang menyamai banyak karya sastra maupun keteladanan bagi segenap warga negara.
Sang pembuka tanah Batavia dari jajahan jonh pieterzon coen, simanusia portugis. Dialah Panglima militer Fatahillah. Panglima tertinggi untuk menaklukan Batavia, Sunda kelapa dan jakarta dari kekuasaan Portugis. Beliau diangkat menjadi panglima setelah pulang dari studinya di Makkah. Warna-warninya ilmu telah beliau pelajari. Tidak hanya ilmu agama, beliau juga mempelajari ilmu gerilya, strategi perang dan persenjataan. Maka, jadilah beliau kyai yang berfatwa diatas kuda dan mubaligh yang menggelorakan jihad mengusir penjajah. Dari kacamata sejarahlah satu diantara sekian banyak alasan kuat bagi santri untuk bangkit dan mempelajari segala hal. Ingin jadi diplomat maka tirulah K.H. Agus Salim. Ingin menjadi sastrawan contohlah buya hamka atau ingin menjadi seorang politikus, maka lihatlah KH. Wahid Hasyim. Jika ingin menjadi seorang jurnalis handal, maka Natsirlah panutannya. Bila menghendaki menjadi seorang pedagang yang sukses, HOS Cokroaminotolah gurunya dan ingin menjadi panglima militer yang tangguh, maka tirulah Fatahillah.

Saat ini pesantren dengan jumlah kurang lebih 70.000 yang tersebar diseluruh wilayah Indonesia, 50% hampir runtuh bahkan tak terawat. Negara tak mengakui keilmuan Santri, Santri menjadi anak tiri dinegeri sendiri. Pemerintah justru memberikan paket-paket pendidikan yang memusingkan. Bukan salah negara, apabila saat ini seolah menjauh tak memberikan perhatian pada santri. Seolah ada jurang sangat curam  yang memisahkan santri dengan negara. Maka santrilah yang harus mulai menyadari,  yang sampai hari ini terkukung dengan opini buatan Penjajah. Santri harus bangkit!!! jangan malah mengangguk ketika dikatakan "Kamu di desa saja, kamu tak usah berpolitik, kamu belum dikatakan santri kalau belum kena gudik", bangkit! bangkit! itu opini buatan penjajah yang entah mengapa kalian malah mengangguk setuju. Belandanya telah pergi, akan tetapi warisan mindsetnya masih menggema di seantero pikiran masyarakat Indonesia. "Santri itu lemah, asing, tertutup, kusut" dan idom-idom buruk lainnya, santri justru mengiyakan dan mengangguk setuju.

Untuk memulai kebangkitan santri, dalam menghadapi era moderen dizaman yang serba-serbi canggih, maka menjadi kewajiban bagi santri untuk memahami tiga Kutub yakni Kitab Ashfar, Kitab Putih dan Kitab Abu-abu. Kitab Ashfar (kitab kuning) walaupun sekarang sudah banyak yang dicetak tidak lagi menggunakan kertas kuning, tetapi kitab tersebut merupakan pegangan wajib dalam kurikulum pendidikan pondok pesantren. Kata Ashfar yang asal katanya dari shafara apabila diurut lebih lanjut maka akan ditemukankata shifrun yang artinya nol. Dengan menggunakan kitab kuning santri diituntut mampu mengharakati tiap-tiap kalimah dan memaknai kata demi kata agar menjadi pemahaman yang sempurna. Pemahaman yang menghantarkan pada keluwesaan berfikir, bukan pemahaman secara instan, harus bermula dari nol menuju seratus.

Ilmu kauni, ilmu alam, ilmu tata geologi, ilmu hitungan dan ilmu-ilmu pasti lainnya, merupakan ilmu yang ada pada kitab putih. Sudah sepantasnya santri mampu menguasai cabang-cabang dari ilmu pasti ini agar mampu bersaing dizaman globalisasi. Ada suatu kisah, seorang santri yang pandai mengaji dan lantang dalam berdakwah ditanya oleh seorang petani jagung "Mas santri, bagaimana cara mengolah jagung agar menjadi komoditas yang unggul dan laku dijual?" mas santri hanya diam saja bahkan tak selipat kata pun terucap dari bibirnya, Ketika melihat gejolak ekonomi saat ini, maka santri harus mempelajari teori ekenomi adam smith dan merekontruksinya dengan versi ekonomi syar'iyah. Santri harus up to date dengan fluktuasi pasar saham dan mampu menjadi seorang enterpreneurship  yang handal.

Kitab Abu-abu, maksudnya bukan kitab yang kertasnnya buram, akan tetapi segala hal yang samar, penuh trik dan intrik serta tipu muslihat. Politik, birokrasi, pemerintahan dan hal-hal yang berkaitan dengannya termasuk dalam kitab ini. Politik adalah seni kemungkinan, didalammnya berdesakan kemungkinan baik dan buruk. Namun ironisnya, saat ini kemungkinan buruklah yang mendominasi dunia perpolitikan negeri ini. Sudah saatnya santri turun tangan, santri yang notabennya orang baik harus mampu menguasai medan ini, menjadikan kemungkinan-kemungkin baik yang mewarnai dunia politik negeri ini. Jika bukan faqih siapa lagi ?, dan orang-orang yang paham pemimpin dambaan islam justru hanya duduk diserambi masjid sambil memutar tasbih, lalu siapa yang akan menjadi penegak kebenaran dipanggung politik?. Siapa yang menyambung suara kebaikan dipanggung Legislatif, apakah putra cukong?, rentenir?, atau perampok?. Tugas santri adalah memulihkan area ini, bukannya menambah kelam. Harus diisi dengan kemungkinan-kemungkinan baik dan menghilangkan kemungkinan buruk. Saat ini santri telah mengumpulkan ruhnya dan siap mewarnai masa depan dengan seruan "KAMILAH SOLUSINYA!!!". (IBN AL-KUTUB)  (Red'/)

Komentar

Tampilkan

Terkini

PUISI

+