Iklan

“Laa Yukallifullohu Nafsan Illa Wus’aha”. Maka hal apa yang membuat kita lepas dari usaha? Tidak ada.

Redaksi Pelajar NU Banjarnegara
Monday, November 25, 2019, 14:10 WIB Last Updated 2019-11-25T16:29:08Z

Maftukhul Ngaqli, pelajarnu-bara.or.id-
Dalam hidup kita seringkali menemukan berbagai macam masalah, baik masalah yang berkategori ringan, sedang maupun yang berat. Semua itu adalah suatu kewajaran dan masih dalam batas kemestian takdir manusia, karena semua orang pasti akan mengalami hal tersebut, kapan pun dan di mana pun sesuai garis takdir masing-masing.

Kebanyakan manusia juga telah megimani bahwa hidup memang dipenuhi dengan persoalan-persoalan atau masalah yang terus bergantian, sama halnya seperti yang dikatakan Mark Manson dalam bukunya yang berjudul ‘The Subtle Art of Not Giving a F*ck’ yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi “Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat’, ia berpendapat bahwa kehidupan adalah rentetan masalah yang tidak ada ujungnya. Masalah merupakan konstanta di kehidupan ini dan tidak pernah berhenti, mereka hanya akan datang silih berganti. Dan kebahagiaan, datang dari keberhasilan untuk memecahkan masalah. Begitulah ujarnya.

Oleh karena itu, sebaik apapun kita menjalani hidup, hidup kita tidak akan pernah kosong dari masalah. Maksudnya, kita akan selalu dihadapkan dengan masalah-masalah yang muncul dari arah manapun. Dan kemudian, kita ditakdirkan untuk menghadapi masalah tersebut.

Meskipun manusia memang ditakdirkan untuk menghadapi setiap masalah yang datang ke hadapan mereka, tetapi tidak sedikit manusia yang memilih untuk lari dari permasalahan, menghindari permasalahan atau malah menyerah dari permasalahan dengan cara bunuh diri atau cara lainnya yang tidak sesuai dengan norma kehidupan yang berlaku.

Semua itu mereka lakukan dengan harapan bahwa mereka akan terbebas dari masalah yang seharusnya menjadi tanggungjawab mereka. Mereka mengira dengan jalan pintas tersebut akan menjadikannya tenang dan tidak perlu repot-repot untuk memikirkan bagaimana solusi untuk menuntaskan masalah yang menghampiri tersebut.

Padahal yang seperti demikian itu, tidak akan membuat suatu masalah dapat terselesaikan. Justru sebaliknya, menghindari masalah atau menyerah dari masalah hanya akan menjadikan masalah itu bertambah besar.

Apabila suatu masalah dijauhi maka akan semakin besar pula tingkat kesulitan dari masalah yang harus ia hadapi. Menghindari masalah berarti membiarkan suatu masalah tersebut untuk tumbuh lebih masalah lagi (menjadi masalah yang lebih besar dan lebih besar lagi) sampai pada akhirnya masalah tersebut akan dihadapi kemudian diselesaikan.

Bahkan orang yang menyerah dari masalah (misal saja orang yang bunuh diri), merekapun tidak akan sertamerta langsung terlepas dari masalah yang ia tinggalkan di dunia. Justru karena ia tidak menyelesaikan masalahnya di dunia, maka masalah itu akan tetap mengejarnya sampai alam manapun.
Apalagi jalan yang ia pilih adalah jalan bunuh diri yang jelas itu tidak diperbolehkan dalam ajaran agama.

Tentu itu adalah kesalahan yang fatal dan jalan yang tidak akan memberikan akhir dari suatu permasalahan apapun. Orang yang menyerah dari masalah adalah orang yang tidak percaya bahwa mereka mampu mengatasi masalah. Mereka merasa bahwa mereka sudah bersusah payah untuk mencari solusi dan menganggap sudah pada puncak kemampuan mereka, sedangkan permasalahan belum tertuntaskan. Padahal, sebenarnya mereka belum sampai pada batasnya dan memang sudah ditakdirkan untuk dapat menuntaskan masalahnya serta sudah dipastikan mampu menyelesaikan masalah tersebut dengan baik.

Benarkah? Ya. Hal tersebut telah dipastikan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya pada Q.S al-Baqarah ayat 286 yang berbunyi:
 ۚ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا 
Bahwa (Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya). Allah tidak akan memberikan cobaan, musibah atau masalah apapun melebihi dari batas kemampuan yang dimiliki hamba-Nya.

Bahwa Allah Swt. adalah Yang Maha Mengetahui, yang lebih mengerti sampai mana batas kemampuan hamba-Nya. Maka berarti, segala kesulitan, cobaan, musibah atau permasalahan apapun yang menimpa kita, sebenarnya itu masih dalam jangkauan kemampuan kita dan merupakan sesuatu yang dapat kita selesaikan.

Apabila kita yakin dengan Tuhan kita, maka kita senantiasa percaya dengan firman-Nya dan menjadikan diri kita manusia yang tidak akan menyerah karena suatu masalah apapun. Bahkan ketika kita ragu dengan firman-Nya, maka Allah Swt. meyakinkan makhluk-Nya dengan firman;
                            إِنَّ اللَّهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ
Bahwa (Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji). Allah Swt. tidak akan mengingkari janji-Nya dan apa yang difirmankan-Nya dalam Al-Qur’an (termasuk Q.S al-Baqarah ayat 286 di atas) adalah suatu kebenaran dan tidak mungkin akan dipungkiri oleh Tuhan YME. Maka apalagi yang membuat kita ragu? Apalagi yang membuat kita menyerah? Apalagi yang membuat kita lepas dari usaha?

Apalagi yang membuat kita kalah dari masalah? TIDAK ADA!. Semuanya bisa kita selesaikan dengan baik, atas izin-Nya. Maka tidak ada alasan apapun untuk kita menyerah. Maka hanya kemalasan-kemalasan mereka sajalah yang menjadikan mereka kalah. Maka hanya orang-orang yang tidak berimanlah yang mengatakan bahwa mereka takut dan tidak mampu menyelesaikan masalah. Sedangkan orang-orang yang beriman akan selalu berusaha dengan keyakinan hati bahwa apa yang Tuhan berikan (kesulitan) kepadanya adalah apa-apa yang bisa mereka selesaikan.

 Bahwa seberapapun masalah itu hadir, maka itu masih dalam kapasitas kemampuannya untuk menyelesaikan. Dengan itulah, kita akan mendapatkan kebahagiaan dan mengerti bagaimana arti sebuah kehidupan.
Komentar

Tampilkan

Terkini

PUISI

+