Advertisement

Artikel

Menyambut 12 Rabiul Awal dengan Membaca Sejarah Perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw.

Redaksi Pelajar NU Banjarnegara
09 November, 2019, 09.46 WAT
Advertisement

Maftukhul Ngaqli, Pelajarnu-bara.or.id- Rabiul awal, Bulan Kelahiran Nabi Saw. Rabiul Awal merupakan salah satu bulan dari 12 bulan dalam Tahun Hijriyah, yaitu bulan yang 34jatuh setelah bulan Shafar dan sebelum bulan Rabiul Akhir. Bulan Rabiul Awal jatuh selama 30 hari dan merupakan bulan yang ke-3 di Tahun Hijriyah.

 Dalam penanggalan Jawa, bulan Rabiul Awal disebut sebagai Bulan Mulud, sedangkan dalam penanggalan Masehi atau yang akrab disebut ‘tanggal nasional’ Bulan Rabiul Awal jatuh pada bulan-bulan yang berbeda di setiap tahunnya. Hal tersebut terjadi karena berbedanya perhitungan antara Tahun Hijriyah dan Tahun Masehi. Tahun lalu, Bulan Rabiul Awal jatuh pada tanggal 9 November 2018 dan pada tahun ini, bulan Rabiul Awal jatuh mulai dari tanggal 29 Oktober 2019.

Bulan Rabiul Awal menjadi bulan yang familiar bagi umat Islam. Karena sejatinya, Bulan Rabiul Awal sangat berkaitan dengan kiprah Agama Islam di seluruh penjuru dunia sampai sekarang ini. Bagaimana tidak? Bulan Rabiul Awal adalah bulan kelahiran bagi cahaya Umat Islam, bagi pemimpin pertama Umat Islam yaitu Nabi Muhammad Saw. Seorang manusia pilihan yang diutus oleh Allah Swt. untuk menyiarkan agama rahmat bagi semesta alam (Agama Islam).

Menurut sejarah, Rasulullah Saw. lahir di Makkah, tepatnya pada Hari Senin, tanggal 12 Rabiul Awwal pada 570 M atau dikenal dengan sebutan Tahun Gajah. Disebut “Tahun Gajah” karena konon ketika Rasulullah lahir, Raja Abrahah sedang mengerahkan pasukan gajahnya untuk menggempur Ka’bah di Makkah namun usaha Abrahah ini berakhir dengan sia-sia, sebab seluruh pasukan gajahnya yang gagah-perkasa itu dihancurkan oleh burung Ababil yang dikirim oleh Allah Swt. Kelahiran Nabi Muhammad Saw. tentu merupakan sebuah anugerah bagi seluruh alam dan seisinya.

Kelahirannya ibarat lampu yang bersinar terang dalam satu ruang yang gelap gulita dan kemudian dari cahaya lampu itulah seluruh bagian-bagian dalam ruang tersebut menjadi terlihat terang-benderang. Begitulah sebagaimana datangnya Rasulullah Saw. ke dunia yang diselimuti oleh kegelapan ini hingga menjadi terang-benderang. Rasulullah lahir untuk menghapus kegelapan umat manusia dengan cahaya peradabannya. Dan tahun ini, 12 Rabiul Awal jatuh pada tanggal 9 November 2019.

Sampai saat ini, kelahiran beliau masih saja terngiang di hati para umatnya dan tidak mati terlindas oleh kemajuan zaman yang begitu pesat beranjak dari detik demi detik. Bahkan kelahiran tersebut menjadi tradisi perayaan yang sudah mendarah daging di setiap tahunnya.

Secara substansi, perayaan ini adalah ekspresi kegembiraan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad Saw. Perayaan ini familiar dengan sebutan Maulid Nabi atau Muludan. Maulid dalam bahasa Arab berarti kelahiran. Jadi, dalam konteks ini perayaan Maulid Nabi berarti perayaan atas kelahiran Nabi.

Sejarah Perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw.
Perayaan Maulid Nabi merupakan tradisi yang berkembang di masyarakat Islam jauh setelah Nabi Muhammad Saw. dilahirkan. Awalnya, perayaan Maulid Nabi dilakukan oleh Rasulullah sendiri, yaitu dengan berpuasa di hari di mana beliau dilahirkan atau sekarang dikenal dengan sebutan ibadah Puasa Sunah Senin Kamis.

Ketika itu, pada abad awal pertama hijriah Rasulullah Saw. memiliki kebiasaan yang istiqomah pada hari Senin, yaitu menahan diri dari mengonsumsi makanan selama sehari penuh. Ketika ditanya mengapa Rasulullah melakukan hal tersebut, beliau menjawab, “Pada hari itulah aku dilahirkan…” (H.R Muslim, Ahmad, Nasa’I dan Hakim).

Memasuki abad kedua hijriyah, kelahiran Nabi sudah dirayakan oleh masyarakat Muslim. Yaitu pada masa Pemerintahan Dinasti Abbasiyah, tepat pada Khalifah Harun al-Rasyid diangkat menjadi khalifah (170 H). Pada saat itu, Khaizuran (ibu dari Khalifah Harun al-Rasyid) memerintahkan agar penduduknya merayakan Maulid Nabi di rumah-rumah mereka. Beliau juga datang ke Madinah dan memerintahkan penduduk untuk mengadakan perayaan Maulid Nabi Saw. di Masjid Nabawi. Menurut Ahmad Tsauri dalam bukunya Sejarah Maulid Nabi, bahwa pada masa ini perayaan maulid diadakan dengan mendengarkan bacaan Maulid Nabi berupa sastra puisi (syi’ir) maupun esai dan juga pembagian makanan atau pakaian.

Menurut Abdul Mun’im Sultan dalam bukunya al-Hayat al-ijtima’iyah fi Asr al-Fatimiy al-Ihtifalat Anazaka, Dinasti Fatimiyah yang berkuasa di Mesir pada tahun 362 H – 567 H juga menyelenggarakan Maulid Nabi, akan tetapi perayaan Maulid Nabi masih dirayakan dengan sederhana, yaitu hanya dengan membagikan manisan dan sedekah.
Perayaan maulid mulai diadakan dengan megah sekitar tahun 604 H yang diselenggarakan oleh penguasa Irbil, yaitu Malik al-Muzafar Kukburi. Dalam perayaan Maulid ini, Malik al-Muzafar mempersiapkan dengan begitu matang, ia membuat 20 kubah lebih yang terbuat dari kayu dan sengaja dibuat untuk para pejabat, pemuka negara dan untuknya sendiri.

Dalam setiap kubah terdapat tempat untuk para pelantun lagu dan musik pengiring. Hal tersebut diadakan agar setiap orang yang masuk ke kubah tersebut dapat berkumpul dan bersantai dengan mendengarkan qasidah-qasidah. Selain itu, pada dua hari sebelum acara puncak, semua ternak yang tak terhitung (seperti unta, sapi dan kambing) yang disiapkan untuk menjamu para tamu mulai diproses untuk dihidangkan nantinya menjadi aneka menu masakan yang lezat dan istimewa. Bahkan setelah acara usai, para tamu juga diberi hadiah uang dan oleh-oleh sebagai bekal perjalanan pulang  ke daerah dan Negara masing-masing.

Tidak hanya dirayakan di Kota Suci Mekah saja, Maulid Nabi juga dirayakan di berbagai belahan bumi lainnya.  Seperti pada masa Dinasti ‘Azafi yang berada di Sabtah, sebuah wilayah di Barat Islam, Maulid Nabi dipopulerkan oleh Abu al-Abbas al-Azafi (557 H-663 H) dan menjadikan Maulid Nabi sebagai senjata untuk memperkokoh persatuan umat Islam pada masa itu. Kemudian di Mesir, pada bulan Rabiul Awal 785 H, yaitu pada masa Sultan Zahir Burqaq perayaan Maulid Nabi diadakan secara serius. Ia mendirikan auditorium yang mewah, menghiasi kota dengan aneka hiasan dan menyediakan dana yang sangat besar. Dan hal tersebut terus berlanjut hingga masa kepemimpinan yang lainnya.

Maulid Nabi di Indonesia
Pesatlah perkembangan tradisi Maulid Nabi ini hingga ke berbagai negara seperti Yaman, India, Turki, Pakistan, Tunisia dan di negara-negara barat. Selain itu, perayaan maulid juga dapat kita rasakan di Negara Indonesia tercinta ini. Berkembangnya tradisi perayaan Maulid Nabi ke Indonesia bersamaan dengan adanya proses Islamisasi di Indonesia. Menurut Ali bin Muhsin al-Saqaf, peringatan Maulid Nabi menjadi salah satu media dakwah yang efektif dalam proses Islamisasi masyarakat Jawa.

Maka pantas saja jika peringatan Maulid Nabi pada masa Kerajaan Demak Bintara dan Kerajaan Mataram dinamai sekaten, yang berasal dari bahasa Arab syahadatain yang berarti dua kalimat syahadat. Dan pengikraran dua kalimat syahadat itulah yang menjadi tanda keislaman seseorang. Di kerajaan Demak, perayaan Sekaten diselenggarakan selama tujuh hari. Dari tanggal 5 sampai 12 Rabiul Awal.

 Perayaan Sekaten diakhiri dengan Grebeg, yaitu upacara pembacaan sejarah hidup Nabi Saw. dan sedekah membagikan makanan yang berasal dari Sultan di Masjid Agung. Hingga sampai saat ini, Maulid Nabi diperingati secara semarak di kota-kota besar, masjid jami’, mushola sampai pedesaan dan masyarakat kecil. Di Indonesia ada beberapa majelis maulid yang populer, di antaranya Maulid Habib Syekh bin Abdul Qadir al-Habsyi, Maulid Kanzus Shalawat, Maulid Kwitang dan lain-lain.

Demikianlah dari waktu ke waktu terdapat  kontinuitas dan berkesinambungan dari tradisi perayaan Maulid Nabi. Sebuah tradisi yang tidak pernah padam di atas peradaban bumi yang luas ini. Di mana pun penduduk muslim itu tinggal, di situlah tradisi perayaan Maulid Nabi akan tumbuh. Karena di dalam hati setiap muslim, sudah semestinya terdapat benih-benih cinta kepada Rasul-Nya, Muhammad Saw.

Dikatakan dari Ibn al-Qayyim bahwa mendengarkan senandung kidung indah pada perayaan kelahiran Nabi atau merayakan setiap momen sakral dalam sejarah Islam akan memberikan ketentraman dan akan dicucuri rahmat oleh sinar kasih Rasulullah Saw.

Kemudian Abdurrahman ibn al-Jauzi juga pernah mengatakan: ‘Di antara keberkahan Maulid Nabi Saw. yang telah teruji adalah negeri akan aman sentosa sepanjang tahun itu. Dan keberkahan yang lain adalah pahala yang dibayar secara tunai, yaitu terwujudnya semua harapan.’

Allohumma Solli’ala Sayyidinaa Muhammad…!!! (Red'/)

TrendingMore