Iklan

Menyeka Luka

Zul
Sunday, November 17, 2019, 22:27 WIB Last Updated 2019-11-23T02:16:57Z

Aku.
Manusia yang kukira paling menyedihkan di dunia. Yang acap membandingkan diri dengan kehidupan oranglain. Yang acap merendahkan diri dan menganggap my life is useless dengan rajin. Yang acap bertanya, “Kapan bahagia?”disela sadness, depression, overthinking, & anxiety yang merangkul batin. Yang berulangkali dihampiri keraguan untuk mundur dan tersungkur, maju dan melaju, atau malah memilih diam seperti manekin.


Aku.
Manusia yang sempat lupa akan keberadaan Tuhan. Yang dengan tak tahu diri menyalahkan takdir dengan tak sungkan. Yang dengan tak tahu diri berlagak  mengusir masalah namun tak ada tindakan. Yang dengan tak tahu diri mengabai nyata dan bermain dalam perandaian. Yang dengan tak sadar diri tak mau mengakui bahwa sebenarnya akulah si pemupus harapan, dengan pemikiran bodoh sempat tak sanggup bertahan, dari fase ujian yang kebetulan singgah namun lupa jika hidup itu selalu penuh akan kejutan.


Aku.
Manusia yang sedikit enggan melihat sekeliling. Hingga akhirnya bertemu dia yang membuat mata ini enggan pula untuk berpaling. Dia yang kini tengah memijat kepalanya yang katanya pening. Yang berujar lelah namun tubuhnya tak mau berbaring. Yang menghembus napas berat disela senyuman paksa yang tersungging. Yang memejam mata sejenak, berkutat dalam tenang, namun ternyata pikirannya luntang-lanting. Yang hatinya sebenarnya sedang tidak baik, namun berpura-pura baik selayaknya bintang tv yang tengah berakting.


Dia.
Mau kuceritakan perihalnya?
Oh dear myself, I am sorry because I hurt you everyday. Rasanya semacam ada tamparan tak kasat yang menampar kedua pipiku dengan keras. Karena sebenarnya dari yang sebenar-benarnya, ada manusia lain yang kisahnya lebih menyedihkan dari kisahku. Yaitu dia.
Iya, dia.

~
~
~

__
Tuhan punya rencana, peluhmu akan buyar, lelahmu terbayar, dan bahagia datang berlayar.
__



Setelah lulus dan menerima selembar ijazah, dunia yang sesungguhnya baru akan dimulai. Aku pikir kehidupan selepas masa SMA sangatlah menyenangkan. Siapa sih yang tak antusias beranjak menuju fase dewasa? Dimana rata-rata dari mereka tentu sudah menyiapkan diri untuk masa depan yang akan mereka sambut dengan penuh rencana, hidup di dunia perkuliahan contohnya.

Lulus SMA, kuliah, kerja. Itu adalah siklus yang biasanya manusia kejar. Yang katanya akan sukses di mata sosial. Karena pada dasarnya, gelar Sarjana mampu membuat mulut-mulut masyarakat meracau pujian, dipandang baik, serta diperlakukan istimewa.

“Bu, aku ingin kuliah.”
“Silakan nak, tapi,” Ibu tidak bisa melanjutkan ucapannya. Sedangkan aku sudah tahu apa kelanjutannya.
“Iya bu, ibu mencemaskan adik, kan?”
Aku sedikit memaksa diri untuk tersenyum disela hatiku yang menyendu. Aku tahu ibu selalu mendukungku, namun akupun tahu jika ibu tak akan sanggup membiayai kuliahku.

Sedih? Apa iya harus ditanyakan lagi bagaimana kondisiku saat ini? Kau sudah tahu jawabannya, bukan?
Mungkin jawabanmu sedikit kurang tepat jika kau menjawab aku sedih, karena nyatanya, aku luar biasa sedih. Mimpiku terhenti, rencana-rencana akan masa depan yang kususun dengan rapi harus kandas, ekonomi keluarga penyebabnya.
Seketika aku benci menjadi miskin.

Memang ada jalan lain, yaitu mengejar beasiswa. Tapi percayalah, aku ini bukan anak pintar yang hobinya mengoleksi berbagai penghargaan. Bukan pula anak yang selalu menjamah ranking 3 besar. Peluangku terlampau sedikit, membuatku merangkul pes7imis.
“Maafin ibu ya?”
Aku tidak berani menatap ibu, aku hanya menerawang ke depan, menyembunyikan rintik yang bersikeras jatuh di pelupuk mata.

“Tidak apa-apa, bu. Aku kan anak sulung, tanggungjawabku besar untuk membantu ibu. Jadi ibu tak perlu minta maaf, oke?”
Wajahku penuh dusta sekarang, berpura baik-baik saja disaat hati ini merasakan sebaliknya.
“Aku akan ke BKK sekolah besok untuk mendaftar pekerjaan, doakan ya bu agar semuanya berjalan lancar.”
Ibu membawaku ke dalam pelukan hangat. Dimana detak jantung ibu seakan memberiku kekuatan.

“Tanpa kamu minta pun doa seorang ibu tidak akan pernah berhenti untuk anaknya.”
Baiklah, mari berhenti menjadi egois. Merelakan mimpimu bukan berarti kau menyerah. Kau hanya mengalah, pada takdir Tuhan yang sedang mengajakmu bercanda.
Mimpimu tidak usai, mimpimu hanya sedang rehat. Jadi mari susun rencana lain sebab hidupmu belum terhenti hanya karena rencana lawasmu tersendat.

~
~
~

 “Aran!”
Dia yang kupanggil menoleh. Sosok laki-laki yang menjabat sebagai adik kelasku sekaligus tetanggaku, menaikkan satu alisnya sebagai pertanda jika ia tengah dilanda bingung. “Kak Ren disini?”

“Memangnya alumni tidak boleh menginjakkan kaki di sekolah ini?”
“Bukan, bukan itu maksudku—“
“Hahahaha aku disini untuk mendaftar pekerjaan di BKK. Aku sudah menjawab pertanyaan di otakmu yang tidak tersampaikan dengan baik oleh mulutmu.”
Aran hanya terkekeh. Sedang aku beralih menatap tangannya yang nampak menggenggam sebuah map berwarna merah.

“Apa itu?”
“Map.”
“Hei, aku bertanya tentang isinya.”
“Jawabanku tidak salah dong, lihat, ini map,” ia menodongkan mapnya di depan wajahku,  “pertanyaanmu yang kurang jelas,kak.”
Okey okey akan kuulangi pertanyaanku dengan intonasi yang lebih lambat.
“Itu map berisi apa, Aran?” lagi-lagi ia terkekeh.
“Kenapa perempuan itu suka sekali kepo ya?” ujarnya seraya membuka map miliknya yang ternyata berisi sekumpulan piagam penghargaan.

“Wahh.” Sontak mataku berbinar takjub. Berdiri di sampingnya seperti ini tiba-tiba membuatku rendah diri. Dia anak yang berprestasi, pasti masa depannya akan sangat baik. Sedang aku? Anak biasa saja yang jangankan berpikir masa depan, bermimpi saja pun rasanya tak pantas.

“Mau diapakan piagam-piagam itu?”
“Dibakar.”
“Hah?”
“Bercanda hehe.” Anehnya ketika Aran mengatakan itu, aku tak menjumpai wajahnya yang melawak atau sekadar melontar kata asal. Apa yang ia katakan seolah merupakan kejujuran.

Lantas aku menyelami bola matanya untuk memastikan bahwa ucapannya benar-benar hanya candaan belaka atau spontanitas yang tidak berdusta. Namun nihil, yang ada ia memalingkan wajahnya malu karena kutatap sedemikian lekat.

“Jangan menatapku begitu kak, nanti kalau sampai baper kan gawat.”
“Tenang, aku tidak mungkin menyukai anak kecil sepertimu.”
“Mana ada anak kecil yang tingginya melebihimu.” Ia mensejajarkan tubuhnya denganku dan ya, tinggiku tak melebihi dadanya. Tapi wajarlah! Dia kan laki-laki, seorang atlet pula!

“Puas sekali ya kalau mengejekku,” aku memasang wajah cemberut, sedang ia tertawa terbahak-bahak, namun tidak dengan matanya.
Matanya redup.
Itu kata mataku yang melihatnya.

~
~
~
Kami, aku dan Aran bertemu kembali di jam istirahat kedua.
Bukan kebetulan, sih. Kami memang sempat menutur janji, sebab ada hal yang ingin aku bicarakan dengan dia.
“Bagimana tes kerjanya?” ia memulai topik setelah kami memesan minuman di kantin. Aku memesan es teh sedang dia memesan es kopi.

“Lancar. Minggu depan wawancara. Jika lolos, aku akan berangkat ke Jakarta.”
Aku menghembuskan napas panjang, sedikit lega karena selangkah lagi  aku akan melepas titel pengangguran. Memang ini kan tujuanku masuk SMK? Langsung kerja setelah lulus, langsung kerja tanpa harus dapat gelar sarjana kampus.

Aku mencium wangi teh tanpa gula ini. Rasa hambarnya menggelitik lidah, segar es nya mengusir dahaga. Membuatku sedikit melupa akan hati yang masih belum sepenuhnya ikhlas untuk melepas,mimpi yang bahkan belum sempat berpapas, tapi terlampau jauh untuk kugapai hingga terpaksa kuhempas.

“Kukira kamu hendak kuliah.”
“Bahkan bermimpi kuliah saja aku tidak layak.”
“Oh.”
Hanya itu tanggapannya? Ia tidak bertanya mengapa, um maksudku, ia tidak penasaran akan jawabanku?
“Aku tidak bertanya mengapa karena jika kamu percaya padaku, kamu akan bercerita tanpa aku pinta.”

Hei, dia membaca isi pikiranku.
“Atau kamu ingin mendengar ceritaku terlebih dahulu?”
“Tentang?”
“Hal yang rahasia.”
“Kamu percaya padaku?”
“Tentu, aku melihat luka yang sama di matamu.”
Aku membisu.
“Bedanya, kamu memilih bangkit. Sedangkan aku memilih mati…”

~
~
~

Don’t worry about the future, Allah has already planned for it.
Seharusnya aku yakin akan itu, tapi bagaimanapun juga aku ini manusia. Sempat dihampiri kecemasan akan masa yang akan datang, dan ketakutan akan hal-hal yang tak diinginkan.

I still have hopes and I won’t waste it.
Semenjak aku mendengar cerita Aran kala itu, aku menjadi berkali lipat bersyukur atas takdir Tuhan yang ternyata tidak selamanya buruk. Tuhan memberikan ujian pada hamba-Nya sesuai kadar kemampuan si hamba. dan tentu ujian hidup yang sedang aku alami ini diberikan oleh Tuhan karena Tuhan tahu, jika aku dapat melaluinya. Tuhan tahu aku kuat.
Jadi putus asa adalah kata yang tidak mungkin terdaftar dalam kamus otakku, seharusnya.

Wah, aku benar-benar dapat hidayah dari cerita Aran. Karenanya aku bisa memandang sisi dunia yang lain, bahwa ada yang tidak lebih beruntung dariku. Seharusnya aku malu, bukannya mengeluh melulu. Harusnya aku bersyukur, bukannya bersikap kufur.

Kring… kring…
Handphone ku bordering menampilkan panggilan masuk dari Aran.
“Halo?”
“Tanganku berdarah.”
“Huh? Bagaimana bisa?”
“Aku bermain pisau hehehe.”
“Astaga kamu kurang kerjaan ya? Sudah diobati?”
“Belum.”
“Lah kok belum?”
“Kalau diobati nanti aku tidak jadi mati.”
“Aran!”
Bip.

Aku memutus sambungan telpon dengan perasaan kesal sekaligus khawatir.
Dia sudah gila? Kenapa dia mencelakai dirinya sendiri? Dia ingin bunuh diri?
Aku mengambil sebuah cardigan dan lekas mengenakan jilbab. Dengan langkah tergesa kakiku berlari keluar untuk menghampiri Aran sampai lupa berpamitan pada ibu yang tengah memasak di dapur.
Aku mengotak-atik handphone-ku untuk mencari kontak laki-laki itu lalu segera menekan symbol berbentuk telepon.

“Sial kenapa tidak diangkat-angkat?”
Aku semakin panik, langkahku tak beraturan hingga berulangkali hendak menabrak orang yang berlalu lalang. Jarak rumahku dengan rumahnya memang bisa ditempuh tanpa kendaraan, namun entah kenapa rute ini terasa berkali lipat lebih panjang dari yang seharusnya.
Aran mengabaikan panggilan dariku. Membuatku semakin ingin sampai dan mengomelinya atas tindakan bodohnya itu.

Bangunan putih berukuran sedang dengan pohon manga di depannya sudah mulai terlihat. Ya, itu rumah Aran.
Aku mengambil jalan memutar karena kamar Aran. berada di sisi belakang. Setibanya di depan jendelanya, tanganku mengetuk sembari menyuarakan namanya.

“Aran!”
Tidak ada sahutan.
“Ran!”
Tidak ada sahutan, lagi.
Berkali-kali sudah aku memanggilnya, apakah kamarnya kosong?
Sesaat ketika kecemasan menggerogotiku lebih dalam, jendela itu terbuka, bersamaan dengan bunyi derit kayu dan kepala yang menyembul.
“Kak Ren?”
“Kamu masih hidup? Alhamdulilah.”

~
~
~

Aku mengobati tangan kirinya yang terluka. Untung saja luka goresnya tidak dalam, tidak sampai mengenai urat nadinya.
“Dasar anak nakal,” gerutuku sembari mengoleskan obat merah dengan hati-hati.
“Aku hanya sedang butuh hiburan untuk menertawai diriku sendiri. Ternyata menyenangkan, pantas saja mereka suka menertawakanku.”

“Cukup mereka saja yang menjahatimu. Kamu jangan jahat pula pada dirimu sendiri.”
“Hehe, ternyata lukanya tidak sesakit luka di hatiku.”
“Sekarang puas?”
Aran menggeleng. “Harusnya pisauku lebih tajam, agar bukan hanya ada luka, tapi berita duka.”
“Ran!” kali ini aku tidak tahan lagi untuk mengontrol emosiku. Aku meneriakinya, bersamaan dengan bulir bening yang meluncur di kulit pipi tanpa izin.
“Kamu menangis.”
“Ya. Kamu penyebabnya.”
“Maaf.”
“Minta maaflah pada dirimu sendiri, Ran.
  
Kamu yang menghancurkan dirimu sendiri. Meluluhkan mimpimu dengan berhenti sekolah, membakar piagam hasil jeri payahmu, mengasingkan diri, bahkan berniat bunuh diri!
“Minta maaflah pada dirimu sendiri, Ran. Yang menyerah akan hidup, pasrah akan takdir, dan tidak melakukan apa-apa untuk menjadi baik-baik saja!

“Aku tahu, kamu sedang melalui fase berat dalam hidup. Siapa yang bersedia menjadi anak dari ayah tukang berzina? Siapa yang tidak sedih saat hinaan dan cacian masyarakat terus memukulmu? Siapa yang tidak malu menerima aib keluarganya di hadapan teman-teman? Siapa yang sanggup tak diacuhkan oleh sosial akibat kesalahan yang bahkan tak diperbuat?
Aku tahu, kamu sedang berada di titik terendah dalam hidup. Merasa tidak berguna hingga benci telah dilahirkan. 

Tapi apa jika kamu mati semuanya selesai? Apa jika kamu mati segala perjuanganmu selama 17 tahun usiamu, kerja kerasmu dalam membangun mimpi-mimpimu, serta upayamu untuk hidup dengan layak tidak sia-sia? Apa jika kamu mati, Tuhan akan menerimamu? Apa jika kamu mati, ibumu akan bahagia? Tidak.

Tuhan percaya kamu kuat, untuk itu Dia memberimu ujian. Tuhan itu adil, dibalik ini semua Dia sudah menyiapkan kejutan. Semua hanya perihal waktu!
Dan aku percaya kamu kuat, untuk itu aku ada disini, untukmu, menjadi seseorang yang bisa kamu jadikan sandaran. Telingaku bisa mendengarkan segala keluhanmu ketika kamu jenuh, bibirku bisa melontarkan kalimat penyemangat ketika kamu rapuh, dan tanganku bisa membantumu bangkit ketika kamu jatuh.

Sekarang yang kamu butuhkan adalah kepercayaan dalam hatimu sendiri. Kamu percaya kamu bisa tumbuh dari luka, maka semesta akan turut percaya. Tidak apa kamu menangis, karena air mata itu bukti jika kamu adalah manusia, bukan benda mati yang tak bernyawa. Tidak apa kamu sempat hancur, asalkan tidak lagi ragu untuk melangkah meneruskan alur. Hidup itu adalah perjalanan, Ran.”

Aku tidak menyangka telah berbicara sepanjang itu,seemosional itu, dan sebijak itu. Semantara Aran kini tengah menunduk. Hei, dia tidak tertidur, kan?
“Terimakasih kak.”

Aran mengangkat wajahnya, bibirnya menyunggingkan senyum yang tampak sangat tulus, begitupula matanya.
“Jika tadi aku mati, mungkin aku sudah di neraka kali ya? Hahaha.” Ia tertawa hambar seraya mengusap luka di tangannya yang sudah tertutupi perban.
Eh? Sejak kapan lukanya dibalut perban? Kurasa aku belum selesai mengoleskan obat merahnya tadi.

“Kak, mari kita berjuang untuk masa depan kita.” Syukurlah, anak ini sudah sadar jika keputusan yang ia ambil untuk mati adalah keputusan yang salah.

“Tentu, aku akan bekerja demi mimpiku membiayai kuliahku sendiri tahun depan. Dan kamu melanjutkan sekolah demi meneruskan mimpimu menjadi atlet nasional.”

“Ada lagi selain itu.”
“Apa?”
“Masa depan kita di pelaminan kak.”
“Ngaco!”
“Hahahaha …”
“Kamu sudah tidak benci rumah kan? 

Disini tempatmu lahir dan besar. Jangan hanya satu hal buruk kamu melupa kenangan indah di dalamnya.”
“Tidak. tapi aku masih benci ayah.”
“Silakan, aku yakin, disini, masih ada sedikit rasa sayang untuk ayahmu.” Aku menunjuk ke dadanya.

“Meski dia tidak patut diteladani anaknya?”
“Ya. Seburuk apapun ayahmu, tanpa beliau kamupun tidak mungkin ada di dunia ini.”
“Benar, aku jadi sayang kamu.”
“Ngaco lagi!”

Cerpen oleh: Sholehah




Komentar

Tampilkan

Terkini

PUISI

+