Advertisement

ArtikelBERITA

BENARKAH MENULIS UNTUK KEABADIAN?

Redaksi Pelajar NU Banjarnegara
18 December, 2019, 10:43 AM WAT
Advertisement


Aldy Yufana, pelajarnu-bara.or.id-  Kita akan mengawali perbincangan mengenai pemikiran seorang tokoh sastrawan dan penulis ulung Indonesia. Kata-katanya menjadi rujukan inspiratif berbagai kalangan, salah satu quotes (begitulah kalangan milenial menyebutnya) yang terkenal adalah “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”, begitulah quotes dari Pramoedya Ananta Toer yang memandang sebuah tulisan atau karya sebagai sarana keabadian.


Kenapa menulis adalah pekerjaan untuk keabadian? Benarkah dengan menulis, manusia dapat abadi selama-lamanya? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu kerap muncul dalam benak pikiran, bagaimana mungkin sebuah tulisan membuat manusia abadi. Mari kita tegaskan kembali quotes dari seorang Pramoedya, menulis bukanlah semata-mata seperti kita menulis sebuah pesan ataupun status di media sosial. Dari quotes Pram tersebut, seharusnya kita mengetahui bahwa menulis memanglah sarana untuk mencapai keabadian. 

Sebagai kalangan milenial, alangkah baiknya kita memandang quotesnya Pram sebagai teguran dan bentuk keprihatinan beliau, ketika melihat pemuda zaman sekarang lebih gemar menghabiskan waktunya dalam menggapai kenikmatan yang sementara. Pemuda-pemudi menanggalkan penanya, mengosongkan kertas putihnya, bahkan menutup buku bacaannya. Karena itulah, penting untuk kita menggali kembali pemahaman tentang “menulis” dari seorang Pramoedya yang awalnya kita tidak mengetahui asal usulnya, namun, melalui karya-karyanya kita dapat menjadi tahu akan pemikiran dan ide-idenya yang tetap abadi melintasi perubahan zaman.

  Berawal dari kebiasaan membaca lambat laun menjadi sebuah sarana untuk ber-literasi, bacalah apapun yang mengandung unsur pengetahuan. Melalui bacaan kita akan memahami sebuah tulisan. Setelah paham akan sebuah tulisan, mulailah beranikan diri untuk mencoba sedikit demi sedikit untuk menulis, tulislah apapun segala yang ada dalam benak pikiran. Bahkan, Imam besar Al-Ghazali menegaskan bahwa “Kalau dirimu bukan anak seorang raja, dan kamu juga bukan anak seorang ulama besar, maka jadilah penulis”, marilah kita budayakan ber-literasi demi menjaga sebuah eksistensi dan jati diri.

Kita analogikan apabila tidak menulis ataupun tidak berkarya, apakah kita hendak menjadi orang-orang biasa yang “tersapu” arus perubahan zaman? Apakah kita hendak tergilas oleh arus sejarah? Kita bandingkan dengan tokoh-tokoh besar dunia, seperti Soekarno ataupun Sokrates yang sudah sangat jauh waktu melewatinya, mereka hingga sekarang tetap dikenal banyak orang. Namanya tetap abadi, karena mereka berani bergerak melawan arus “kenikmatan sesaat” sehingga menghasilkan karya-karya yang begitu memikat.

Masihkah kita enggan untuk menulis? Coba tanyakan pada lubuk hati, apakah kita diciptakan hanya sebatas “peran pembantu” dalam sebuah cerita, pikirkanlah bahwa kita diciptakan sebagai “pemimpin” yang artinya adalah pimpinlah dirimu sendiri, pimpinlah hatimu, pimpinlah jiwamu untuk melawan keburukan dalam dirimu sendiri. Kita akrab dengan berbagai quotes tokoh-tokoh besar dunia, tetapi berat untuk menjalankannya. Karena itulah, berpikir menjadi sangat penting untuk menunjukkan bahwa eksistensi dirinya selalu terjaga. Senada dengan perkataan Rene Descartes yang mengatakan bahwa “cogito, ergo sum-aku berpikir karena itu aku ada”. 

Berpikirlah maka aku ada, kata-kata yang sangat menyindir manusia modern ini, di mana banyak tindak tanduk yang tidak dilandasi dengan pemikiran dan perenungan terlebih dahulu. Sehingga menimbulkan desas desus kebencian antar sesama, yang kemudian disibukkan dengan saling membenci dan lagi-lagi menanggalkan budaya ber-literasi. Sibukkanlah diri ini untuk mencapai kebaikan dan kemuliaan hidup, salah satunya ya dengan menulis. Melalui tulisan, kita menjadi sibuk bermain-main kata dan memutar-mutar imajinasi sehingga tidak ada waktu senggang untuk berlomba-lomba membenci dan menebar keburukan antar sesama manusia. 

Pelbagai perbincangan mengenai menulis dan berpikir di atas, kita akan sampai pada suatu pemahaman bahwa, apabila manusia dapat memaksimalkan potensi akal pikiran lalu ia realisasikan segala pikiran dan idenya dalam sebuah tulisan maka ia akan abadi walaupun jasadnya tertimbun dalam palung bumi. Segala sarana sudah didapatkan dengan adanya akses yang mudah melalui media internet, karena itu, mulai sekarang, budayakan ber-literasi agar hidup tidak begitu monoton dan mati tidak hanya menjadi sebuah “tontonan”. Kita akhiri dengan sebuah quotes dari ulama besar Indonesia atau lebih dikenal dengan nama HAMKA (Haji Abdul Malik Karim Amrullah), beliau mengatakan “Kalau hidup sekadar hidup, kera di hutan juga hidup. Kalau kerja sekadar kerja, kerbau di sawah juga bekerja”. Salam Literasi.
 ditulis oleh : Aldy Yufana/IAIN Salatiga

TrendingMore