Iklan

MENGHINDARI TERJADINYA DISTORSI SEJARAH : “SELAMAT HARI NATAL, SAUDARAKU”

Redaksi Pelajar NU Banjarnegara
Tuesday, December 24, 2019, 11:36 WIB Last Updated 2019-12-24T04:45:04Z

Aldy Yufana, pelajarnu-bara.or.id-
Alhamdulillah pekerjaan berjalan lancar, pulang ke kontrakan enaknya bawa apa ya? Tak terasa hari-hari Desember pada tahun ini berjalan begitu cepat, sampai-sampai aku tidak sempat menyiapkan surprise untuk hari istimewa saudaraku”. Begitu aku bergumam dalam hati, sambil berjalan pulang menyusuri trotoar malam di Salatiga. Melihat lalu lalang kendaraan yang memancarkan cahaya keindahan dan sesekali membunyikan dering bising. Malam itu, merupakan malam perayaan hari besar saudaraku, Samidi namanya. Dia menyewa kontrakan denganku dan setiap tahun kami patungan untuk membayar sewanya. Tahun ini adalah tahun pertama dia merayakan hari besarnya di Salatiga, lantaran ada tugas penting yang harus dikerjakan, karena itulah, dia tidak bisa pulang ke rumah dan merayakan hari besarnya bersama keluarga.

Setapak demi tapak aku berjalan pulang sambil memikirkan barang bawaan untuk saudara di kontrakan. Namun, alih-alih dapat barang bawaan malahan keburu sampai di kontrakan dan aku pun tidak dapat menemukan sesuatu yang berkesan untuk Samidi. Alhasil aku pulang dengan tangan kosong, dan bicara kepada Samidi : “Sam, ... (sedikit lama aku terdiam) selamat merayakan hari Natal ya. Semoga kamu selalu mendapat kasih sayang dan kesehatan oleh Tuhan. Sorry nih, aku tidak bisa kasih kamu sesuatu, soalnya...” belum selesai aku bicara, Samidi lantas menyabar badanku dan memeluk erat sambil mengucapkan sesuatu : “Terimakasih saudaraku, Ayfana... do’a darimu lebih dari cukup untukku, kau tak usahlah repot-repot kasih aku sesuatu. Karena aku tahu, kamu kan belum gajian hahaa.” Kami pun melepas pelukan dan melepas tawa dengan riang. Malam itu, kami hanya ditemani oleh gorengan Pak Joko sebelah kontrakan sambil melepas penatnya pekerjaan dan sungguh menikmati kehangatan dan keindahan malam Natal. Sekali lagi, Selamat Hari Natal Saudaraku.

Penggalan cerita di atas adalah penggambaran perasaan saya dalam menanggapi polemik boleh tidaknya mengucapkan hari Natal bagi kaum muslimin, kalangan umat muslim dalam menanggapi polemik ucapan hari Natal pun beragam, ada yang pro dan ada yang kontra. Nah, kali ini penulis akan membahas polemik tersebut, biarlah yang tidak setuju dan silahkan yang setuju. Jika anda bagian dari yang mengucapkan hari Natal kepada saudara tetangga lalu ada yang mengkafirkan, maka jangan dianggap terlalu serius. Seperti tanggapan Gus Dur mengenai dirinya yang dianggap kafir, beliau pun menjawab “Ya gampang saja, kalau kita dianggap kafir, tinggal syahadat, sudah Islam lagi”.

***
Kita semua tahu, bahwa Islam yang diajarkan oleh Baginda Nabi Muhammad adalah agama yang toleransi dan penuh kasih sayang. Sejarah menjadi saksi bahwa kepemimpinan Muhammad SAW di Madinah begitu menonjolkan nilai-nilai toleransi dalam beragama ataupun menanggapi perbedaan di kalangan sahabat. Bangsa Yahudi yang pada saat itu begitu membenci Muhammad, bahkan sempat merencanakan pembunuhan kepada beliau. Nabi Muhammad sadar bagaimana Yahudi di Madinah saat itu adalah minoritas, beliau bisa saja mengerahkan umat Islam untuk melumat habis Yahudi, begitu pula perbedaan pendapat di kalangan sahabat yang memandang Yahudi adalah bangsa yang harus ditumpas. Tetapi hal tersebut tidak pernah direalisasikan oleh Nabi Muhammad, karena beliau tahu Islam yang dibawanya adalah agama yang penuh kedamaian dan kasih sayang untuk seluruh alam sekaligus mengemban misi untuk kemuliaan manusia.

Karena itulah, alangkah baiknya sebagai bangsa yang plural (majemuk) tidak perlu debat berkepanjangan dan saling caci maki lempar sana sini. Mari kita sesama saudara sebangsa dan setanah air senantiasa menjaga kemajemukan Indonesia dan kesatuan persatuan di dalamnya. Jangan sampai mengalami pendistorsian sejarah atau penyelewengan fakta sejarah. Sebagai umat Islam memahami secara mendalam bahwa agama Islam hadir sebagai rahmat seluruh alam, Islam tidak disebarkan melalui pedang (seperti pendapat para orientalis barat) justru Islam didakwahkan melalui kelemah lembutan dan toleransi (tidak ada unsur paksaan). Sebagai kalangan terpelajar, memahami akar permasalahan sebelum menjustifikasi suatu perkara adalah penting, sehingga informasi yang didapatkan jauh dari manipulasi ataupun sebuah distorsi. Penulis tidak bermaksud membuka luka lama mengenai konflik pasca jatuhnya Presiden Soeharto. Pada saat itu banyak terjadi pergolakan di belahan Indonesia, seperti yang terjadi di Aceh, Poso, Maluku, dan Papua.

Pelbagai konflik baik vertikal (rakyat melawan pemerintah) maupun horizontal (rakyat melawan rakyat) membuat Indonesia begitu berdarah-darah. Seperti halnya yang terjadi di Poso, Sulawesi Tengah, konflik horizontal meletus atau biasa disebut dengan Tragedi Kemanusiaan Poso pada 25 Desember 1998. Pecahnya Konflik Poso terjadi tidak dapat dipisahkan oleh ketegangan dan gesekan dalam perebutan kursi pemerintahan atau kursi bupati, namun sangat disayangkan bahwa para politikus memanfaatkan momentum agama sebagai kambing hitam konflik. Sehingga agama ditunggangi untuk kepentingan politik, terjadilah konflik Poso antara kaum Kristen dengan kaum Islam yang berjilid-jilid. Konflik Poso menjadi salah satu contoh ketika sejarah mengalami pendistorsian, seharusnya momentum agama dimanfaatkan dengan penuh suka cita, sebaliknya yang terjadi adalah huru hara dalam menumpahkan darah antar sesama.

Marilah kita pahami bahwa toleransi antar agama sebagai jalan mencapai kemuliaan sesama manusia, tanpa perlu saling mencurigai dan langsung menjustifikasi, kembalikan pada diri sendiri sudahkah kita mengamalkan sila ke-satu Pancasila bahwasanya “Ketuhanan Yang Maha Esa”? Karena itulah, permasalahan apakah boleh tidaknya mengucapkan selamat Hari Natal bagi kaum muslim, sebaiknya kita tanggalkan terlebih dahulu. Mari kita sempatkan waktu sedikit untuk menghargai saudara sebangsa dan setanah air ini. Hal tersebut dilakukan sebagai upaya untuk mengukuhkan kembali sila ke-dua dan ke-tiga Pancasila yang berbunyi “Kemanusiaan yang adil dan beradab, serta Persatuan Indonesia.” Perlu dipahami kembali, bahwa “urusan ucapan ‘selamat’ itu hanya soal kesediaan turut senang atas perasaan bahagia orang lain. Sesederhana itu. Ini Cuma masalah tata krama dan interaksi sosial (muamalah). Ini bukan masalah keyakinan, akidah, atau teologi.” Seperti itulah ungkapan dari Prof. Nadirsyah Hosen atau yang akrab disapa dengan Gus Nadir dalam menanggapi polemik ucapan Natal bagi kaum muslim yang tertulis dalam bukunya yang berjudul “Kiai Ujang di Negeri Kanguru”.


ditulis oleh : Aldy Yufana/IAIN Salatiga
Editor: Tim Redaksi
Komentar

Tampilkan

Terkini

PUISI

+