Advertisement

Cerpen

Perempuan dalam Masa Penantian

Redaksi Pelajar NU Banjarnegara
20 February, 2020, 1:26 AM WAT
Advertisement

Pelajarnu-bara.or.id-
“Permisi”.
Sahut seorang laki-laki dengan baju basah kuyup saat memarkirkan motornya di sebuah toko kelontong.

“permisi” , toko itu nampak lengang bahkan tak terlihat ada pembeli lain. Dilantangkan kembali suara baritonnya sampai terdengar seseorang menghampirinya.

“punten, dari belakang tidak kedengeran suaranya. Ada perlu apa kang?”

“ oh neng, saya mau beli rokok” kemudian seseorang dari balik meja kasir itu mengulurkan pesanan yang kumaksud.

“ dua puluh lima ribu kang jadinya”. Aku ulurkan selembaran pecahan lima puluh ribuan dari dalam saku.

“ neng bisa sekalian seduhkan kopi? ”
Ia nampak terkesiap mendengar permintaanku.

“ disini ngga jualan kopi seduhan kang... “ dia terhenti. “ tapi bisa saya buatkan, sebentar akang bisa tunggu saja di bangku depan”

Wanita itu berbalik menjauh dari bilik toko, sepertinya ia kasihan melihatku kedinginan seperti ini. Rupanya benar ia sedang membuatkan secangkir kopi. Wajahnya nampak lelah namun sorot matanya memancarkan keteduhan bahkan lebih membekukan dari pada guyuran hujan yang menderas tanpa ampun kala itu.

Aku libaskan jaketku yang terlanjur basah, aku acuh saja menyalakan sepuntung rokok tanpa sepenuhnya merasa bersalah dengan kesehatanku. Sebatang rokok tidaklah terlalu berlebihan dibandingkan hujan yang menyingkap rasa dingin sampai rasanya biru sudah sekujur tubuh dibuatnya.

Tak berapa lama, pelayan toko itu datang dengan secangkir kopi yang masih mengepulkan uap panas. Lamat-lamat kuamati rona wajahnya telihat makin ayu, memang ia tidak nampak memakai riasan apapun, cantik alami tanpa memoles bagian rupa-rupa wajahnya menjadi demikian indah.

 Namun ia lebih luwes bahkan dibandingkan perempuan lain yang pernah aku kenal. Hujan ternyata tidak punya iktikad buruk bahkan karenanya aku sungguh bersyukur dipertemukan seorang perempuan yang manis ini.

Ah, memandangnya saja membuat hatiku kian menghangat. Jadi karena pertemuan kala itu membuatku seolah ingin kembali membeli berbatang-batang rokok di kemudian hari.

Setelah beberapa hari aku mencari tahu, perempuan pelayan toko itu bernama Runtik. Ternyata jatuh cinta itu mudah saja. Aku memang tidak berpengalaman menghadapi perempuan pemalu, sekalinya ia kudekati kurasa makin menjauh pula lah ia.

 Hampir setiap hari aku berhenti di toko itu, hanya untuk sekedar membeli rokok. Runtik memang perempuan langka, tiap kali aku hendak mengajaknya keluar entah untuk menemani makan atau sekedar keluar dari etalase toko kecil itu ia selalu menolak.

“ apa akang tidak malu menyukai seseorang seperti saya yang hanya seorang pelayan toko?”

Runtik, runtik. Klise sekali Runtik ini, mana mungkin aku tidak menyukai perempuan pekerja keras yang hidupnya ia dedikasikan untuk bapak ibunya di kampung. Terlebih parasnya sungguh menawan bahkan di atas rata-rata perempuan yang selama ini seringkali ayah jodohkan padaku.

Bukan hanya itu, aku lebih menyukainya karena sepertinya ia tipe perempuan penurut dan tak banyak menuntut. Untuk apalagi aku mencari perempuan lain, yang bahkan belum tentu pandai menjaga kesetiannya.

Lagi pula ketika suatu hari nanti aku ditugaskan untuk menjaga keamanan negara, pasti tidaklah mudah bagi seorang istri untuk bertahan dan berdiam diri dalam rumah.

 Di zaman sekarang, menemukan calon istri yang mampu menjaga kehormatan suaminya bukanlah perkara yang mudah. Namun aku yakin, Runtik inilah sebagian perempuan yang aku idam- idamkan menjadi seorang istri.

“tik, esok sore aku ingin bertamu ke rumahmu. Aku ingin mengenal bapak-ibumu juga sejatinya aku ingin mengutarakan hal penting. Aku ingin meminangmu”. Jelasku mantap.

Satu bulan lagi pelatihanku sebagai seorang tentara resmi dimulai. Aku tidak bisa meninggalkannya sendiri tanpa kepastian.

“ benarkah kang abdi sunguh-sungguh untuk melamarku?” bukankah ini terlalu terburu-buru?” tandasnya dengan nada lirih.

“ apa kau lihat ada raut keraguan padaku tik? Aku tidak pernah seyakin ini pada seorang perempuan”

“ aku takut mengecewakanmu kang atas semua masa laluku, akangpun belum mengenalku sepenuhnya”.

“ kurang sungguh-sungguh apalagi aku tik, aku sepenuhnya sudah percaya padamu. Aku tidak punya alasan lain.”

“aku harap akang memikirkan ulang, aku bukan perempuan sebaik yang akang pikirkan”

Kami saling diam, hening namun aku menunggu jawabannya.

“ tik, janganlah kamu merendah dengan dirimu sendiri, kalau restu yang kau khawatirkan maka aku bisa mengusahakannya dari orangtuaku bahkan untuk meyakinkan orangtua mu pun aku sepenuhnya sanggup.”

“ bukan begitu kang Abdi...” ia tercekat, “ aku..aku ini seorang janda”

Deg. Jantungku seolah terhenti seketika. Sejenak semua yang ada dipikiranku buyar.

“ aku ini seorang janda yang pernah menikah dengan seorang mantan suami yang beristri dua”.

 “ mengapa tik kau berbicara masa lalumu? Apakah kau sedang menguji kesungguhanku? Apa masalahnya kalau kau seorang janda... bukankah masih ada hakku untuk tetap mencintamu? Aku tidak gentar menanggapinya.

Ia kembali meneruskan, bahwa beberapa kali pula ia pernah menjalani kawin kontrak.

“kau pasti lebih tahu kang posisi ku sebagai orang serba berkekurangan. Bagi keluargaku yang terpenting hanyalah tentang bagaimana mendapatkan uang untuk menyambung hidup, bahkan aku rela melakukannya demi hanya beberapa lembar uang recehan”.

Bruk. Ambruk sudah ketahananku menghadapi situasi kacau ini, aku limbung dengan berbagai kenyataan yang ia terangkan. Bagaimana mungkin perempuan yang aku cintai ini sebegitu kerasnya menghadapi kehidupan. Aku tak sampai hati melihatnya terluka begini.

“runtik, maafkan aku... aku baru menemukanmu sekarang. Kalaupun toh dulu aku menemukanmu lebih awal kau pasti tidak akan berjuang sekeras ini”

Suaranya lebih parau, ia sesenggukan menjelaskan semuanya. Tentang siapa dirinya, tentang istri-istri mantan suaminya yang seringkali menghardik dan menghinanya. Tentang semua masa lalu yang pernah membelenggunya.

 Dadaku teramat sesak, bahkan ketika air matanya begitu deras mengalir aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku diambang duka, ketika tahu pula bahwa ia pernah punya anak yang ia adopsikan hanya karena takut tidak bisa menjamin kelangsungan hidupnya.

“ kang, aku sangat bersyukur dicintai laki-laki sepertimu. Namun seutuhnya semua keputusan ada padamu. Kalau kau ingin tetap mempertahankanku maka yang aku harapkan agar kau sudi berbesar hati untuk memaafkan kesalahanku yang dulu, namun kalaupun kau berhenti sampai disini, akupun tidak berkecil hati karena aku tahu kondisiku.”

Berat benar rasanya sebuah pengakuan ini. Antara aku semakin mantap menikahinya ataukah nantinya terhalang restu orang tuaku yang pasti tidak akan mudah untuk menerima keadaan Runtik. Ibuku adalah seorang dengan pemikiran terbuka, ia mungkin akan mempertimbangkan niatanku menikahi Runtik.

Namun ayahku, pastilah ia tidak akan setuju dengan pernikahan ini.
Satu bulan teramat singkat berlalu, usahaku meyakinkan mereka nihil saja. Waktu pelatihanku tinggal beberapa hari lagi. Aku diburu waktu untuk mempersiapkan diri sebagai seorang tentara.

Satu hari sebelum keberangkatan, aku memantapkan hati untuk menemui Runtik. Sungguh sangat menyakiti hati ketika aku meninggalkannya. Runtik, perempuan yang aku cintai hanya pasrah melihatku pergi dengan menyisakan sebuah samar diantara kami.

“tik, selama empat tahun ini. Aku mungkin tidak bisa lagi untuk menemuimu, bahkah untuk sekedar mengirimmu kabar.”
“aku harap kau disini bisa menjaga hati selagi aku bertugas...” Ia tertunduk dan hanya diam.

 “aku memang belum resmi melamarmu, tunggu saja nanti ketika aku pulang, aku akan menikahimu, Runtik.” Isaknya semakin menjadi ketika aku sematkan cincin di jari manisnya lalu kucium keningnya. Sungguh manis, memang Runtikku yang manis. Ia semakin dalam menatapku. Air matanya tak kuasa membekap pelupuk hatinya yang sangat terluka bahkan aku sama mati rasa dengan kesedihan ini.

“ titip hatiku ya Tik, aku pasti kembali padamu”.

Empat tahun berselang bukan waktu yang singkat bagi perjalanan cinta kami. Aku semakin disibukkan dengan berbagai tugas, sesekali aku mengabarinya dengan surat namun kali ini lama ia tidak membalas kabarku. Hingga akhirnya aku mendapat kabar dari ibuku bahwa Runtik kekasihku sudah dipersunting laki-laki lain.

Sial. Aku dibombardir segala risau dan amarah. Demi apa aku pernah sangat mencintai perempuan sialan ini. Bagaimana mungkin ia sampai hati menghianati perasaanku dan perasaannya sendiri. Berkali aku meyerapah dan memakinya dalam hati. Ternyata cintanya hanya ilusiku semata.

Beberapa bulan setelah mendapat kabar itu, aku beranikan diri untuk pulang. Alasan terbesarku adalah memastikan bahwa Runtik benar-benar sudah menjadi istri orang.

Benar dugaanku ia sudah tidak lagi bekerja di toko tempat pertama kali kita bertemu. Aku memantapkan hati menuju kampung halamannya. Ternyata memang dia disana, sudah bergelar nyonya sekarang. Aku tak kuasa kembali melihat wajahnya, bahkan sesakit-sakitnya hatiku aku tidak mau berbalik menyakitinya. Cukup aku saja yang merasakan kegetiran ini. Ia lebih dari cukup menahan perih yang tak berkesudahan setelah dituntut berbalas budi pada orang tuanya dengan kembali mengorbankan diri menjadi istri seorang pengusaha kaya di kampungnya.

Maafkan aku yang tidak lagi bisa memperjuangkanmu Runtik, andai saja kau punya daya untuk melawan, maka kau tidak akan mengimpun lara sampai sedalam ini. (Tria K.N/ Rakit)


Editor: Zulfikar Faza M


TrendingMore